<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828</id><updated>2011-12-03T10:34:04.640+07:00</updated><category term='50 Promising Indonesian Universities'/><title type='text'>javaneseyouth</title><subtitle type='html'>little opinion, article, knowledge,
Indonesian product, information</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-8792167348096723851</id><published>2011-10-11T09:19:00.007+07:00</published><updated>2011-10-26T11:49:53.173+07:00</updated><title type='text'>AMANAT BAB II PASAL 3 UU SISDIKNAS DAN KONTRIBUSI BUDAYA SAMIN DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Amanat Bab II Pasal 3 UU Sisdiknas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam Pasal 3 UU Sisdiknas disebutkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat pendidikan nasional tersebut menegaskan bahwa pembentukan watak menjadi target utama dalam dunia pendidikan. Watak atau karakter menjadi modal utama untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Sebuah bangsa akan baik jika para pemimpinnya memiliki karakter yang baik dan hal ini tidak akan bisa dicapai bila karakter yang baik tersebut tidak mendominasi kehidupan rakyatnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Untuk membentuk karakter dalam kehidupan masyarakat jalan satu˗satunya adalah melalui pendidikan. Pendidikan adalah upaya memasukkan unsur˗unsur kebudayaan kedalam diri peserta didik melalui pembelajaran yang komprehensif dan berkesinambungan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan dalam arti umum yang meliputi pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal, karena guru sebagaimana kata Natsir bukan sekadar 'guru pengajar dalam kelas formal'. Guru adalah para pemimpin, orang tua, dan juga pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pendidikan seharusnya mampu mencetak generasi-generasi yang tidak hanya terampil dan cakap secara intelektual akan tetapi juga generasi yang memiliki kekuatan batin dan karakter yang baik. Sebagaimana telah dipesankan oleh bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita”(kemendiknas, www.isi-dps.ac.id)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi nasehat baik tersebut sepertinya tidak pernah kita hiraukan, sehingga ketika bangsa ini telah mengalami keterpurukan karakter barulah sadar dan kebingungan mencari konsep yang sebenarnya telah kita kenal sejak dahulu kala. Ya, konsep tersebut telah disetuskan oleh bapak pendidikan kita sejak bangsa ini pertama kali mulai merangkak membangun diri membentuk suatu bangsa yang berdaulat. &lt;br /&gt;Hal senada juga telah dipaparkan oleh M Natsir melalui sebuah artikelnya yang berjudul “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut&lt;/span&gt;” (Pada 17 Agustus 1951, enam tahun setelah kemerdekaan RI), Natsir mengingatkan bahaya besar yang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu mulai memudarnya semangat pengorbanan. Melalui artikelnya ini, Natsir menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia setelah kemerdekaan dengan prakemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, kata Natsir, bangsa Indonesia sangat mencintai pengorbanan. Hanya enam tahun sesudah kemerdekaan, segalanya mulai berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir menulis: "Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau. Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu, dan merajalela sifat serakah. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya"(Republika, Senin, 14 Juni 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah penggalan kata-kata Natsir yang keluar 60 tahun lalu, tapi seolah bangsa ini tidak pernah sadar dan sesegera mungkin menyembuhkan penyakit akutnya. Justru sebaliknya bangsa ini membiarkan dirinya semakin digerogoti oleh virus yang melumpuhkan. Apa yang salah dengan system pendidikan kita sehingga menghasilkan pemimpin-pemimpin yang sangat korup dan sebagian besar birokrat kita bermental amoral? Sepertinya tidak fair jika kita hanya menghakimi dunia pendidikan sebagai penyebab terpuruknya bangsa ini. Namun, mau tidak mau melalui pendidikanlah peradaban sebuah masyarakat atau bangsa terbentuk. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Hakekat Pendidikan Karakter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah karakter berhubungan erat dengan perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Istilah karakter selalu mengacu dengan perbuatan˗ perbuatan baik seperti berperilaku sopan, menghargai sesama, jujur, dan suka menolong. Berbeda halnya dengan seseorang yang berperilaku licik, tidak jujur, kejam, suka mengadu domba dan rakus, perbuatan-perbuatan seperti ini tidaklah disebut berkarakter tetapi perbuatan seperti ini disebut perilaku buruk. Sehingga seseorang akan disebut berkarakter jika tingkah laku dan perbuatannya sesuai dengan nilai/norma yang tertuang dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terminologi ”karakter” itu sendiri sedikitnya memuat dua hal: values (nilai-nilai) dan kepribadian. Suatu karakter merupakan cerminan dari nilai apa yang melekat dalam sebuah entitas. ”Karakter yang baik” pada gilirannya adalah suatu penampakan dari nilai yang baik pula yang dimiliki oleh orang atau sesuatu, di luar persoalan apakah ”baik” sebagai sesuatu yang ”asli” ataukah sekadar kamuflase. Dari hal ini, maka kajian pendidikan karakter akan bersentuhan dengan wilayah filsafat moral atau etika yang bersifat universal, seperti kejujuran. Pendidikan karakter sebagai pendidikan nilai menjadikan “upaya eksplisit mengajarkan nilai-nilai, untuk membantu siswa mengembangkan disposisi-disposisi guna bertindak  dengan cara-cara yang pasti” (Curriculum Corporation, 2003: 33, staff.uny.ac.id).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi (www.kopertis3.or.id). Apa yang dikatakan Imam Ghozali tersebut merupakan karakter yang telah mengakar dalam diri seseorang. Dimana nilai-nilai yang sebelumnya menjadi acuan telah dipahami dengan benar dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Karakter bersumber dari nilai-nilai luhur yang secara moral membentuk pribadi seseorang dan tercermin dalam perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan sebagai sarana untuk menanamkan karakter dalam diri peserta didik, yang berarti pendidikan tidak hanya merupakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;transfer of knowledge&lt;/span&gt; (tranferisasi ilmu pengetahuan) saja akan tetapi juga merupakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;transfer of value&lt;/span&gt; (transferisasi nilai). Pendidikan harus memenuhi tiga ranah yaitu, (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian diharapkan pendidikan dapat mencetak ilmuan-ilmuan berkarakter atau berjiwa profetik (agamis/berjiwa agama) yang memiliki sifat-sifat jujur, menghormati sesama, tidak egois dan sensitif, berani berkata benar, memiliki kemandirian, disiplin, setia kawan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Budaya dan Prinsip-prinsip ajaran Samin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip ajaran samin sebagai salah satu khasanah budaya nasional memberikan sumbangan yang nyata dalam pembentukan karakter bangsa. Hal ini tercermin dalam prinsip dasar beretika dan prinsip berkarakter yang selalu diugemi (dipegang teguh) dan diajarkan oleh komunitas samin turun-menurun. Prinsip-prinsip ajaran samin (Rosyid, 2009) tersebut dijabarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Prinsip dasar beretika&lt;br /&gt;Prinsip dasar beretika berupa pantangan untuk tidak drengki (membuat fitnah), Srei (serakah), panastren (mudah tersinggung atau membenci sesama), dawen (mendakwa tanpa bukti), kemeren (iri hati/sirik), keinginan untuk memiliki barang yang dimiliki orang lain, nyiyo marang sepodo (berbuat nista terhadap sesama penghuni alam dan bejok reyot iku dulure, waton menungso tur gelem di ndaku sedulur (menyianyiakan orang lain tidak boleh, cacat seperti apapun asal manusia adalah saudara jika mau dijadikan saudara), dan berujar norak (saru, tidak sopan, dsb)&lt;br /&gt;2. Pantangan berinteraksi berupa &lt;br /&gt;Bedok (menuduh), colong (mencuri), pethil (mengambil barang; barang yang masih menyatu dengan alam atau masih melekat dengan sumber kehidupannya, misal sayur-mayur ketika masih di ladang, jumput (mengambil barang) ;barang yang telah menjadi komoditas di pasar, misal beras, hewan piaraan, dan kebutuhan hidup lainnya. Nemu wa ora keno (menemukan barang menjadi pantangan&lt;br /&gt;3. Prinsip berkarakter&lt;br /&gt;Ajaran dasar berkarakter meliputi : kudu weruh te-e dewe (harus memahami barang yang dimilikinya dan tidak memanfaatkan milik orang lain, lugu (bila mengadakan perjanjian, transaksi, ataupun kesediaan dengan pihak lain jika sanggup mengatakan ya, jika tidak sanggup atau ragu mengatakan tidak.  Jika ragu memberikan jawaban ya atau tidak, mereka berujar cubi mangkeh kinten˗kinten pripun, kulo dereng saget janji, mligi (taat aturan prinsip samin, dipegang erat sebagai bukti keseriusan dan ketaatan memegangi ajarannya. Diantara larangan adalah judi, pemicu menurunnya semangat kerja dan hubungan seks bebas karena bukan haknya. Rukun dengan istri, anak, orang tuanya, tetangga, dan dengan siapa saja untuk mewujudkannya, larangan beristri lebih dari satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nilai-nilai yang memiliki peran dalam proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter. Nilai˗nilai yang diugemi oleh masyarakat samin yang juga merupakan inti budaya masyarakat Jawa ini seharusnya tetap dijadikan pegangan dalam kehidupan berbangsa. Akan tetapi nilai˗nilai yang baik ini semakin luntur dari kehidupan masyarakat tertelan oleh budaya modern yang ditransformasikan melalui perkembangan teknologi informasi. Akibatnya semakin sedikit kelompok masyarakat yang tetap memegang prinsip˗prinsip luhur yang besumber dari nilai˗nilai budaya. Disisi lain eksistensi mereka semakin terpinggirkan oleh masyarakat sekitar. Sulitnya lagi ketika kelompok masyarakat ini menolak semua bentuk kemajuan positif termasuk pendidikan, sehingga nilai˗nilai yang mereka pegangi hanya untuk komunitasnya saja serta tidak dapat membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;Rofiq Faudy Akbar, M.Pd&lt;br /&gt;Dukuh Kliyoso Rt. IV, Rw. 6 Desa Karangrowo,&lt;br /&gt;Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus&lt;br /&gt;Kamis 8 September 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-8792167348096723851?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/8792167348096723851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=8792167348096723851&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/8792167348096723851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/8792167348096723851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2011/10/amanat-bab-ii-pasal-3-uu-sisdiknas-dan.html' title='AMANAT BAB II PASAL 3 UU SISDIKNAS DAN KONTRIBUSI BUDAYA SAMIN DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-434232006343237664</id><published>2011-07-14T12:07:00.002+07:00</published><updated>2011-07-14T12:29:11.077+07:00</updated><title type='text'>Pentingnya Re˗edukasi untuk Deradikalisasi Terorisme</title><content type='html'>Sangat memprihatinkan, di Negara yang terkenal dengan keramah tamahan dan kespiritualitasan penduduknya justru muncul berbagai aksi-aksi sadisme yang sangat tidak terpuji dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Terlebih ketika agama dijadikan legitimasi aksi-aksi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai upaya telah dilakukan untuk membendung praktek˗praktek tororisme di tanah air, salah satu gagasan yang dicetuskan adalah melalui deradikalisasi terorisme. Deradikalisasi menurut Reinhard Golose adalah segala upaya untuk menetralisir paham˗paham radikal melalui pendekatan interdisipliner, seperti hukum, psikologi, agama dan sosial budaya bagi mereka yang dipengaruhi atau terekspose paham radikal dan/atau pro kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golose (dalam bukunya Deradikalisasi Terorisme, Humanis, Soul Approach dan menyentuh akar rumput) menawarkan suatu konsep yang spesifik yaitu reorientasi motivasi dan re˗edukasi. Memperbaiki motivasi dalam diri teroris dan simpatisannya, serta masyarakat secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita telaah reorientasi motivasi dan re˗edukasi merupakan dua hal yang saling berkaitan, reorientasi motivasi merupakan hasil dari proses re˗edukasi. Dari pendidikan tentulah akan menghasilkan motivasi yang berbeda, tergantung dari jenis pendidikan yang disampaikan. Pendidikan yang salah menghasilkan motivasi negatif sedangkan pendidikan yang benar menghasilkan motivasi positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat potensi usia muda yang sangat rentan terhadap bahaya paham–paham yang menyimpang, maka perlu mendapatkan prioritas untuk mengawal mereka melewati masa perkembangan dengan semestinya. Membekali para pemuda dengan kegiatan-kegiatan yang positif, menumbuhkan sikap tanggung jawab mereka dan memelihara serta meningkatkan keimanan para pemuda memang sangat baik dilakukan. Akan tetapi ada satu hal yang sangat penting yang dilupakan oleh banyak pihak yaitu kurang mempertimbangkan besarnya sikap kritis usia muda. Jika kita perhatikan aksi-aksi terorisme tersebut selalu bersandarkan pada keyakinan yang seolah-olah benar, sehingga para pelaku aksi terorisme tersebut merasa apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka disini dirasa sangat perlunya re˗edukasi pemahaman agama yang benar kepada masyarakat luas terutama generasi muda. Memberikan pemahaman yang benar tentang berbagai model pemikiran yang dapat memicu terjadinya tindakan˗tindakan radikal, karena seseorang tidak akan memiliki pemikiran dan motivasi tersebut sebelum mendapat stressing pemikiran dari luar. Sebagai contoh re˗definisi dan cara pandang mengenai Jihad dan penerapannya serta haramnya hukum bom bunuh diri dalam tinjauan Islam sangat perlu ditransformasikan agar membentengi generasi muda dari tindakan˗tindakan yang tidak terpuji dan tidak manusiawi dengan mengatasnamakan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad hukumnyapun bisa berbeda-beda, ada jihad dalam konteks defensif atau difa an nafs, hal ini apabila suatu negeri diserang oleh musuh, melawan perampok atau membela kehormatan. Sedangkan jihad dalam konteks ofensif dilakukan dengan syarat,, Pertama : Apabila seseorang berada di medan pertempuran, Kedua : Apabila diperintah oleh Pemimpin Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun lawan yang dalam jihad ofensif juga harus teridentifikasi secara jelas. Bukan asal disebut musuh sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang pada zaman ini yang mempersepsikan jihad dengan cara pandang yang sempit. Abdullah bin Amr Radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang membunuh orang yang telah mengadakan perjanjian damai, tidaklah dia mencium bau Surga, dan sesungguhnya baunya akan dijumpai selama perjalanan empat puluh tahun". [HR Bukhari, 2930]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Negara, perjanjian damai adalah perjanjian untuk tidak saling menyerang satu sama lain, sebagaimana perjanjian damai antara Mekah dan Madinah yang pernah diupayakan oleh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan dalam konteks bermasyarakat perjanjian damai telah teraktualisasikan dalam kehidupan beragama dengan saling hormat˗menghormati dan toleransi dalam menjalankan peribadatan. Bagi pemeluk agama Islam sudah sepantasnya untuk menciptakan keamanan dalam masyarakat, stabilitas keamanan sangat erat hubungannya dengan keimanan. Dua unsur ini saling mendukung, firman Alloh dalam surat Al An’am : 82 “Orang˗orang yang beriman tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang˗orang yang mendapat petunjuk” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keamanan hanya akan tercipta dengan keimanan dan mewujudkan nilai˗nilainya dalam bermasyarakat. Demi menggambarkan pentingnya keamanan, Nabi besabda : “Barangsiapa merasa aman di tempat tinggalnya, tubuhnya sehat dan memiliki bekal pada hari itu, seolah dunia telah ia kuasai dengan keseluruhannya” (HR, Tirmidzi : 2268). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : &lt;br /&gt;Rofiq Faudy Akbar, M.Pd (Dosen STAIN Kudus)  &lt;br /&gt;Radar Kudus (Jum’at 3 Juni 2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-434232006343237664?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://dakwah-bpi.stainkudus.ac.id/?page=detailartikel&amp;id=122' title='Pentingnya Re˗edukasi untuk Deradikalisasi Terorisme'/><link rel='enclosure' type='' href='http://dakwah-bpi.stainkudus.ac.id/?page=detailartikel&amp;id=122' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/434232006343237664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=434232006343237664&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/434232006343237664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/434232006343237664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2011/07/blog-post.html' title='Pentingnya Re˗edukasi untuk Deradikalisasi Terorisme'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-3370926110386771754</id><published>2010-11-12T21:19:00.002+07:00</published><updated>2010-11-12T21:23:08.262+07:00</updated><title type='text'>MAHASISWA KEBUMIAN: UJUNG TOMBAK SOSIALISASI MITIGASI BENCANA GEMPA, TSUNAMI dan GUNUNG API INDONESIA</title><content type='html'>MAHASISWA KEBUMIAN: UJUNG TOMBAK SOSIALISASI MITIGASI BENCANA GEMPA, TSUNAMI dan GUNUNG API INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Andang Bachtiar&lt;br /&gt;Ketua Dewan penasehat IAGI - Ikatan Ahli Geologi Indonesia&lt;br /&gt;(ditulis pertama kali 8 April 2007, ditulis ulang barusan: 1 November 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat2 seperti ini, saat semua orang berkonsentrasi pada usaha ke-gawat-darurat-an penanganan langsung korban2 bencana (Wasior, Mentawai, Merapi), mungkin tidak terlalu banyak yg bisa dilakukan oleh kalangan saintis maupun praktisi ilmu kebumian yg sesuai dg jalur profesinya. Diantara kita ada yg ikut serta dalama arus besar kerja sukarela SAR (kalau mampu),penanganan pengungsi (kalau ada waktu), penyediaan air bersih sarana dan prasarana darurat (kalau memang ada di sector yg bersesuaian), atau mungkin ikutan meneliti aspek2 terbaru dr fenomena geologinya shg bisa dipakai langsung dlm usaha relokasi recovery (nantinya) atau mitigasi-prediksi untuk membuat gambaran proses bencana geologi ini lebih lengkap jadinya. Tentu saja dalam hal sumbang menyumbang bahan makananan, medis, pakaian dsb spt umumnya seluruh lapisan masyarakat lainnya, kita di komunitas professional kebumian bisa juga bergerak bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengurangi urgensi penanganan kedaruratan yg sdg beralangsung dan mumpung masih hangat, saya mencoba untuk mengingatkan kembali betapa jauh lebih pentingnya menggurangi resiko bencana daripada menghadapai bencana begitu saja tantang menantang tanpa persiapan apapun juga selain jor-jor-an dana penanggulangan di anggaran2 pemerintah. Dan yg paling dasar dari proses pengurangan resiko tersebut adalah membangun kapasitas internal masyarakat sendiri untuk bersiap menghadapi bencana lwt pendekatan tradisi, budaya, pembenahan infrastruktur penyelamatan dan tata ruang yg antisipatif thdp bencana serta latihan2 tanggap darurat (atau sering diistilah-kerenkan sbg simulasi simulasi). Sosialsisasi2 ttg masalah2 tersebut di atas harus terus menerus dilakukan terutama di daerah2 yg sdh jelas2 diidentifikasi oleh para ahli sbg daerah yang potensial menuai bencana dg siklus proses gempa-tsunami- letusan gn api yg tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal sosialisasi mitigasi bencana pasca gempa Mentawai (untuk menghindari korban - ekses dalam kejadian2 pasca-gempa), saya sangat yakin Pak Ade (IAGI SumBar, Distam) dan Pak Badrul (HAGI Padang, Unand) sudah berusaha sekuat tenaga, mengorbankan waktu-pikiran (dan bahkan dana pribadi) untuk melakukannya. Juga untuk mitigasi bencana pasca Merapi atau gempa Yogja, kawan2 dr Bandung maupun Yogja sendiri baik secara kedinasan maupun inisiatif kelompok akademik, keprofesian maupun NGO, semuanya sudah berbondong2 turun lapangan. Tetapi kita semua juga tahu bahwa jumlah, tenaga, pikiran dan terutama “waktu” para ahli geologi-geofisik (baca: anggota IAGI maupun HAGI), sangat-sangatlah terbatas. Banyak diantara kita yang tidak bekerja di domain kebencanaan tersebut. Apa kata bozz di kumpeni/instansi kalau kita sering-sering voluneering jalan-jalan untuk nyambangi masyarakat yang perlu penjelasan, ketenangan psikis, dan keyakinan bahwa mereka harus pindah (walau untuk sementara) dari zona-zona rawan pasca gempa atau bahkan zona-zona rawan pre-syn-pasca gempa (rawan forever). Termasuk -mungkin- kawan-kawan IAGI-HAGI di SumBar, Yogja, Papua. Mereka pasti sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi apa daya: manajemen kerja / concern sosial kita masih belum terbentuk bagus. Tidak mungkinlah kita para ahli geologi-geofisik ini bisa bekerja full-time melakukan sosialisasi-sosialisasi tersebut. Apalagi kalau kita bicara soal volunteering dengan network kawan-kawan IAGI-HAGI dari daerah lain dan (terutama) dari pusat (JKT-BDG-YK). Selain komunikasi antar kita lewat dunia email seringkali hanya sebatas wacana, analisis, dan saling-tukar-pengalaman (belaka) == jarang yang pasti-pasti untuk mengorganisasikan suatu kerja nyata === , juga sistim tanggap-sosial organisasi keprofesian kita (IAGI-HAGI) nampaknya sedang tidak sigap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan dg permasalahan tbs, saya mengusulkan kepada kawan-kawan PP-IAGI, PengDa2 IAGI, maupun Pengurus HAGI, untuk secara serius mengorganisasikan mobilisasi rekan-rekan mahasiswa kebumian (fisika, geofisika, geologi, geodesi, geografi) sebagai ujung-tombak sosialisasi-sosialisasi tersebut dalam arti yang sebenar-benarnya (bukan hanya wacana, diskusi, dan perencanaan diatas kertas dan rapat-rapat tanpa follow-up).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa mahasiswa? Dari dulu (waktu kita masih mahasiswa) sampai sekarang “mahasiswa” adalah posisi yang relatif “sedikit beban” dibandingkan dengan kita-kita yang sudah “banyak beban”. Waktu ekstra untuk berkegiatan kemahasiswaan maupun (seringkali) untuk diskusi-diskusi, bersosialisasi, pacaran, bahkan demonstrasi-demonstrasi relatif lebih banyak daripada para ahli yang sudah bekerja. Walaupun seringkali kita mendengar dari waktu ke waktu bahwa mahasiswa kita dituntut untuk sekolah cepat, tepat-waktu, gak neko-neko, dsb, terutama dengan beban kredit yang banyak(??) dan regulasi yang makin ketat (DO, skors dsb) dan tuntutan untuk keep-up dengan kebutuhan industri lewat interaksi dg orang2 industri dan teknologinya (diluar kuliah resmi),….. tetap saja masih ada waktu ekstra buat mereka untuk berkegiatan kemahasiswaan dsb. Masih banyak calon-calon pengganti kita yang concern, militan, dan mau bekerja untuk kepentingan organisasinya, berlatih, berinteraksi, diluar program-program resmi perkuliahan. Yang mereka butuhkan adalah fasilitasi, sedikit training-kursus ttg hal-hal advanced di khasanah mitigasi (yang dasar2 sdh mereka kuasai), dan dukungan network, pembiayaan (yang sangat-sangat minimal dibandingkan dengan kalo kita turun sendiri), dan kadang-kadang sekali-dua-kali kita-kita yang sudah “ahli’ dan pengen ikutan jalan2 (dan waktu memungkinkan) bisa turun bersama mereka di kampung-kampung, desa-desa, daerah2 yang memerlukan sosialisasi tersebut. Menurut catatan saya ada 11 Perguruan Tinggi punya Jurusan Geologi, empat angkatan yang masih aktif jumlahnya bervariasi antara 4×30=120 s/d 4×150=160 per perguruan tinggi. Jadi antara 1320 s/d 1760 mahasiswa geologi aktif calon-calon penerus kita sedang belajar geologi di PT-PT kita. Taruhlah 20% saja yang punya minat dalam program kemahasiswaan-keprofesian-&lt;br /&gt;pengabdian masyarakat seperti ini; kita sudah punya 264 s/d 352 mahasiswa yang bila dibagi di 12 Pengda IAGI maka rata2 tiap Pengda bisa mendapatkan bantuan dari minimal 22 mahasiswa. Jumlah yang cukup banyak untuk secara bergantian, bergilir (menyesuaikan dengan jadwal kuliah, ujian dsb) mempelopori jalan-jalan sosialisasi ke daerah2 yang sudah dan akan terkena bencana. Belum lagi kalau kita hitung potensi dari mahasiswa2 Fisika, Geofisika, Geodesi, Geografi,… kemungkinan angka tersebut akan dapat berlipat tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sebenar-benarnya? Karena saya melihat dan merasakan selama ini organisasi profesi kebumian kita (IAGI, HAGI, IATMI, dsb) masih sibuk dengan urusan yang belum benar-benar menyentuh langsung ke bawah (ke masyarakat langsung). Yang tidak langsung sich banyak: berkiprah di profesi masing-masing demi menyumbang devisa negara, meningkatkan wacana pengetahuan anggota, dsb dsb. Usaha-usaha untuk bersinergi dengan potensi kekuatan yang namanya “mahasiswa” belum pernah benar-benar dilakukan oleh organisasi-organisasi kita dalam rangka mitigasi sosialisasi ini. Yang ada seringkali menggunakan mahasiswa sebagai volunteer untuk pertemuan2 ilmiah, ikut jadi panitia, tanpa ada peluang untuk mengedepankan mereka dengan segala potensi kekuatannya. Perhimagi sebagai kumpulan resmi organisasi2 himpunan mahasiswa geologi kita juga kurang diberdayakan, jarang diajak ngomong, dan bahkan susah untuk berhubungan dengan kita2 resmi atau tidak resmi (kecuali di beberapa Pengda/Universitas, dimana dosen-dosennya juga punya concern kuat terhadap organisasi kemahasiswaan, seperti Mas Agus Hendratno di UGM: Salut!!!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melakukannya. Sangat bisa!!! Pada waktu gempa Yogja, siapa yang turun ke daerah2? Mahasiswa!!! Termasuk mahasiswa2 geologi kita. Mereka menyebarkan ribuan selebaran informasi tentang gempa-tsunami dalam rangka menenangkan masyarakat sekaligus juga mengedarkan bantuan2 materi-makanan ke daerah2. Mereka juga ikutan bercerita di tenda-tenda pengungsian menenangkan masyarakat, tentunya beberapa kali juga harus bersama mas Agus, mbak Rita, mas Eko Teguh, dkk. Kita semua ditempat kerja kita masing-masing karena keterbatasan status hanya bisa ikut menyumbang materi maupun ide. Merekalah yang jalan-jalan. Pada waktu pasca gempa-tsunami Aceh serombongan Tim IAGI yang dipimpin oleh pimpro IAGI juga beranggotakan full mahasiswa Trisakti, ITB, UGM, Akprind, Unpad, UPN, dsb, untuk mencarikan dan mengebor air bersih buat pengungsi. Di Malang, mahasiswa2 Fisika Unibraw =anak buahnya mas Adi Susilo= juga aktif bersama AMC (pecinta alam) memetakan bencana longsor di Malang Raya, memetakan pantai selatan JaTim dan indikasi2 bencananya, dan sekaligus juga aktif membuat acara2 sosialiasi di Malang (Cangar), Madiun, Kediri, Trenggalek. Mereka juga terus adakan itu di Blitar, Tulungagung, Lumajang, Jember, sampai Banyuwangi. Dalam kesempatan sosialisasi bersama AMC tersebut di Trenggalek mereka sempat berkolaborasi dengan Perhimagi Yogja yang memberikan penjelasan tentang Geologi Bencana kepada pecinta-pecinta alam dihadapan Wakil Bupati dan DPRD Trenggalek. Bisakah kita seperti mereka? Sebebas mereka? Tentu saja tidak bisa. Tapi kita bisa berkolaborasi, mendukung, memfasilitasi, dan membiayai mereka untuk terus berjalan-jalan menceritakan tentang geologi dan bencana, mengingatkan masyarakat supaya siap-siap, kalo perlu pindah dan merubah tata-ruang dsb… atas nama ILMU KEBUMIAN dan KESADARAN UNTUK MENGABDIKANNYA KE MASYARAKAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tunggu apalagi?  Note-1: Dari manapun datangnya, besaran biaya yang mungkin akan dipakai oleh para ahli jalan-jalan ke Padang, pulau2 barat terluar, dan daerah2 rawan bencana letusan volkanik cerita soal gempa letusan gn api dsb ke masyarakat, jumlah yang sama besarnya bisa dipakai oleh kawan2 mahasiswa Fisika Unand Padang atau ITM Medan atau Geologi UGM, UPN, STTNAS, STIAkprind dll untuk jalan-jalan lebih lama, lebih mencakup daerah yang luas, dan lebih menjangkau masyarakat, tentunya dibawah koordinasi IAGI / HAGI Pengda setempat,.. syukur2 PP-IAGI / HAGI juga bisa berperan dalam memfasilitasi programnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note-2: Bukan berarti saya mendiscourage kita2 para ahli geologi untuk sosialisasi ke daerah2, tapi saya lebih menekankan pada program jangka panjang, lebih luas, dan lebih efektif-efisien bersama-sama mahasiswa setempat, tentunya sekali dua kali bersama kita juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam ADB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from → Disaster, GeoTehnik, Geoscience, Vulkanologi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-3370926110386771754?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://geologi.iagi.or.id/2010/11/01/mahasiswa-kebumian-ujung-tombak-sosialisasi-mitigasi-bencana-gempa-tsunami-dan-gunung-api-indonesia/' title='MAHASISWA KEBUMIAN: UJUNG TOMBAK SOSIALISASI MITIGASI BENCANA GEMPA, TSUNAMI dan GUNUNG API INDONESIA'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/3370926110386771754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=3370926110386771754&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/3370926110386771754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/3370926110386771754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2010/11/mahasiswa-kebumian-ujung-tombak.html' title='MAHASISWA KEBUMIAN: UJUNG TOMBAK SOSIALISASI MITIGASI BENCANA GEMPA, TSUNAMI dan GUNUNG API INDONESIA'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-2708200169994101714</id><published>2010-06-12T14:06:00.003+07:00</published><updated>2010-06-16T07:57:51.372+07:00</updated><title type='text'>APLIKASI PRINSIP ING NGARSA SUNG TULADHA, ING MADYA MANGUN KARSA DAN TUT WURI HANDAYANI UNTUK EFEKTIFITAS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN</title><content type='html'>Jika kita berbicara mengenai kualitas pendidikan kita, mungkin tidak akan habis dalam sehari. Berbagai permasalahan telah menjadi sedemikian kompleksnya hingga sulit sekali mencari akar permasalahannya, mulai dari kurikulum, kebijakan pemerintah, sumberdaya pengajar, gaji guru yang rendah, hingga media dan alat pembelajaran yang minim. Hal ini dikarenakan pemerintah sejak dulu tidak memprioritaskan perbaikan di bidang pendidikan, kita terlena ketika pada tahun 70-an banyak tenaga pengajar dari Indonesia yang diekspor ke Negara tetangga sehingga kita menganggap bahwa kualitas pendidikan kita masih lebih baik, masih unggul dibandingkan Negara tetangga tanpa upaya perbaikan yang berkesinambungan. Walhasil, saat ini kualitas pendidikan dan tenaga kerja kita jauh di bawah Malaysia, kita hanya bisa mengekspor TKI dan TKW, bukan untuk menjadi tenaga professional, tetapi hanya untuk menjadi buruh dan pembantu rumah tangga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat begitu terpuruknya kualitas pendidikan yang ada, upaya sadar dan perbaikan mulai diupayakan oleh pemerintah. Mulai dari mengubah kebijakan anggaran pendidikan lebih dari 20%, perbaikan kurikulum, hingga perbaikan gedung dan sarana prasarana pendidikan yang ada. Sebetulnya disinilah peran guru yang lebih besar, guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dituntut untuk tetap bisa mencerdaskan bangsa di tengah kondisi yang sulit. Maka perbaikan kualitas dan sumberdaya tenaga pengajar menjadi sangat urgen disamping perbaikan di bidang kurikulum dan media atau sarana pembelajaran yang ada. Gurulah yang paling berperan untuk menentukan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan berhasil atau tidak, guru harus mampu menggunakan media pembelajaran untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar dan guru harus bisa berkreasi untuk menggunakan metode atau merancang model pembelajaran sederhana untuk menunjang pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya meningkatkan keberhasilan pembelajaran, merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh setiap orang yang berkecimpung dalam profesi keguruan dan kependidikan. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran ditentukan pada proses ketika pembelajaran itu berlangsung. Dalam sebuah proses pembelajaran, model pembelajaran yang dilakukan oleh guru dapat dikategorikan menjadi dua macam, pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher center) dan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student center). Secara sederhana proses pembelajaran tersebut dapat diterjemahkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam proses pembelajaran ada guru yang mengajar dengan cara menyampaikan materi pelajaran semata-mata.&lt;br /&gt;2. Disisi lain ada guru yang sengaja menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga &lt;br /&gt;   peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan yang beraneka ragam dalam &lt;br /&gt;   mempelajari materi pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama bisa disebut dengan ungkapan dude tapa (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;duduk, dengar, catat, dan hapalkan&lt;/span&gt;), guru hanya berperan sebagai penyampai materi pelajaran. Guru biasanya berdiri di depan kelas, menghadapi sejumlah peserta didik dan menjelaskan isi pelajaran sedangkan peserta didik pada umumnya duduk dengan rapi, mendengarkan keterangan guru, atau sedikit mencatat keterangan itu. Situasi seperti inilah yang disebut pengajaran. Situasi kelas pada proses pengajaran seperti digambarkan di atas bersifat pasif dan verbalistis, yaitu peserta didik hanya diberi atau menerima, dan guru melaksanakan pengajaran dengan penuturan (verbal) semata-mata. Jarang dijumpai keaktifan belajar yang lebih jauh seperti berdiskusi, melakukan penemuan, menguji suatu konsep atau teori, dan sebagainya. Hubungan antar individu (peserta didik ke peserta didik atau peserta didik ke guru) dalam proses pengajaran tampak pincang, sehingga kurang terlihat adanya hubungan timbal balik, baik antara peserta didik ke peserta didik, maupun peserta didik ke guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengajaran dengan model teacher center, mungkin efektif diterapkan pada jaman dahalu dimana kondisi masyarakat masih sederhana, guru masih sangat dihormati oleh orang tua dan peserta didik, akan tetapi menjadi tidak efektif jika diterapkan pada masa sekarang dimana kondisi psikologis dan perkembangan para peserta didik telah banyak dipengaruhi oleh perkembangan jaman dan perkembangan teknologi yang sedikit banyak menggeser pola kehidupan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi selain membawa dampak yang positif bagi kehidupan manusia juga membawa dampak yang negatif khususnya bagi generasi muda. Hasil penelitian di Amerika untuk anak usia tujuh hingga empat belas tahun pada tahun 1980 saja, sudah membuktikan bahwa anak-anak pada usia tersebut lebih impulsif dan membangkang, lebih cemas dan penakut, lebih kesepian dan sedih, lebih lekas marah dan kasar. Metode teacher center ini tentu saja kurang efektif jika diterapkan dimasa sekarang, mengingat kondisi peserta didik di tengah pengaruh arus perkembangan teknologi yang sedemikian pesat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada kelompok kedua, guru mengajar dengan menciptakan situasi dan kondisi belajar yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan tujuan. Oleh karena tujuan yang hendak dicapai itu beraneka ragam, maka situasi pembelajaran pun beraneka ragam pula. Jika tujuan pembelajaran hanya menghendaki peserta didik mengetahui sesuatu, tentu proses pembelajaran pun sederhana. Jika tujuan menghendaki agar peserta didik tidak hanya sekedar mengetahui, tetapi memiliki kemampuan yang lebih jauh, seperti memahami, mampu menerapkan suatu konsep dalam berbagai keadaan, atau memiliki bentuk-bentuk keterampilan tertentu disesuaikan dengan tuntutan pencapaian tujuan tersebut, maka proses itulah yang disebut pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran guru dalam pembelajaran berbeda dengan peran guru dalam mengajar yang termasuk pada kelompok pertama. Pada kelompok kedua, guru berperan sebagai orang yang selalu berupaya untuk memberi rangsangan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;stimulus&lt;/span&gt;) agar peserta didiknya mau mempelajari suatu materi pembelajaran tertentu. Pada saat peserta didik melakukan proses belajar, guru membimbing atau membantu kesulitan-kesulitan yang dihadapi sehingga yang bersangkutan mampu memecahkannya. Di samping itu guru pun mengarahkan peserta didik belajar, sehingga dapat mencapai tujuan dan dia pun selalu berupaya agar peserta didiknya selalu termotivasi untuk belajar. Dengan cara semacam ini peserta didik lebih aktif dalam belajar, dan kegiatannya pun beraneka ragam. Peserta didik dapat mempelajari suatu materi pembelajaran tertentu dengan cara diskusi, melakukan penemuan, melakukan percobaan, melakukan latihan, dan sebagainya, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, cara-cara inilah yang disebut dengan metode pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student center) sebetulnya sudah sejak dulu dicetuskan oleh bapak pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara melalui prinsip-prinsip pembelajarannya yang kita kenal dengan sebutan trilogi pendidikan yaitu “ING NGARSA SUNG TULADHA, ING MADYA MANGUN KARSA, TUT WURI HANDAYANI” yang berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun karya dan di belakang memberi dorongan. Prinsip-prinsip ini hanya bisa diterapkan jika, dalam sebuah pembelajaran seorang guru menerapkan metode pembelajaran, sedangakan jika guru hanya menerapkan metode ceramah saja maka dia hanya menerapkan prinsip “ing ngarsa sung tuladha”, guru hanya berdiri di depan menerangkan dan memberi contoh, para peserta didik tidak memiliki kesempatan untuk berkarya dan guru tidak bisa memotivasi peserta didik untuk menampilkan hasil karya mereka. Sedangkan jika guru menerapkan berbagai metode pembelajaran, maka dalam proses pembelajarannya dapat dilihat sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika berdiri di depan&lt;/span&gt; : guru dapat melakukan apersepsi, menghubungkan pelajaran sekarang dengan pelajaran yang lalu, memberikan contoh dan pengalaman dunia nyata kepada peserta didik&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika dia di tengah&lt;/span&gt; : guru masuk ke dalam ruang kerja peserta didik, bukan untuk mengintervensi mereka, tetapi untuk mendorong mereka berkarya, membantu memecahkan permasalahan yang ada dalam kelompok kecil dan menyadarkan peserta didik agar dapat bekerjasama dalam sebuah lingkungan sosial kelompok.&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika di belakang&lt;/span&gt; : guru mendorong dan memberikan motivasi kepada para peserta didik untuk berani tampil di depan, mempresentasikan hasil karya mereka kepada teman-teman yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pembelajaran dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan strategi yang dipilih, misalnya metode tanya jawab, diskusi, eksperimen, dan pendekatan beberapa model pembelajaran seperti quantum teaching, CTL, group investigasi dll. Penggunaan metode menjadi sangat urgen dalam sebuah proses pembelajaran, salah seorang pakar pendidik seperti Mahmud Yunus pernah mengatakan bahwa metode pembelajaran jauh lebih penting dari pemberian materi pelajaran (Al Thariqah Ahamm Min Al-Madah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integrasi prinsip “ing ngarsa sung taladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” ke dalam metode pembelajaran, menjadikan suasana kelas kondusif, menyenangkan, proses pembelajaran menjadi interaktif, guru dapat masuk ke dalam alam pikiran peserta didik sehingga dapat mengembangkan potensi individunya secara optimal, dengan kata lain “bawalah dunia mereka ke dunia kita dan hantarkan dunia kita ke dunia mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini dapat kita katakan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus dapat memilih atau merancang sebuah model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan seperti metode tanya jawab, diskusi, eksperimen, dan pendekatan beberapa model pembelajaran seperti quantum teaching, CTL, group investigasi dll. kemudian mengintegrasi prinsip-prinsip trilogi pendidikan kedalam pelaksanaan pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran tidak akan efektif, jika guru mengajar dengan gaya ketika dia hanya menggunakan metode ceramah, akan tetapi dalam sebuah proses pembelajaran guru seolah-olah sedang memimpin konser saat berada di ruang kelas, guru memahami sekali bahwa setiap murid memiliki karakter masing-masing sebagaimana alat musik seperti seruling dan gitar yang memiliki suara yang berbeda. Sebagaimana seorang dokter yang mengobati pasien-pasiennya, jika dia memberikan obat yang sama pada setiap penyakit, maka bukan kesembuhan yang didapat, melainkan penyakit baru yang lebih kronis sebagai akibat kesalahan dalam penggunaan metode pengobatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-2708200169994101714?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/2708200169994101714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=2708200169994101714&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/2708200169994101714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/2708200169994101714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2010/06/aplikasi-prinsip-ing-ngarsa-sung.html' title='APLIKASI PRINSIP ING NGARSA SUNG TULADHA, ING MADYA MANGUN KARSA DAN TUT WURI HANDAYANI UNTUK EFEKTIFITAS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-922884174718825736</id><published>2009-09-16T20:54:00.003+07:00</published><updated>2009-09-16T21:10:04.180+07:00</updated><title type='text'>EXERCISE FOR TEN GRADER  ACCELERATION PROGRAM</title><content type='html'>Exercise&lt;br /&gt;I.   Choose one right answer,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Geography was first stated by Eratothenes in his book titled....&lt;br /&gt;a. Geographika&lt;br /&gt;b. The World of Human &lt;br /&gt;c. The Scope of Geography&lt;br /&gt;d. The Physical of Geography&lt;br /&gt;e. Geographical&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. In the medieval centuries Bernadus Veranus divided geography into two, they are....&lt;br /&gt;a. Social Geography and Physical Geography&lt;br /&gt;b. Social Geography and Human Geography&lt;br /&gt;c. Generalist Geography and Specialist Geography&lt;br /&gt;d. General Geography and  Social Geography&lt;br /&gt;e. Specialist Geography and Human Geography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Geography is a study about the similarities and differences of geospheric phenomena. Therefore geosphere is....&lt;br /&gt;a. object of functional geography &lt;br /&gt;b. object of regional geography&lt;br /&gt;c. object of material geography&lt;br /&gt;d. object of formal geography&lt;br /&gt;e. object of geographical circumstana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Branch of geography that studies about the spreading of living organisms on earth's surface is....&lt;br /&gt;a. Anthropogeography&lt;br /&gt;b. Biogeography&lt;br /&gt;c. Geomorphology&lt;br /&gt;d. Geophysics&lt;br /&gt;e. Hydrography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. The branch of physical geography that learns about land waters is....&lt;br /&gt;a. Hydrology           d.   Geology&lt;br /&gt;b. Geomorphology    e.   Oceanography&lt;br /&gt;c. Hydrography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. All human activities are influenced by nature. That opinion is in accordance with the principle of....&lt;br /&gt;a. Geocentric    d.   Determinis&lt;br /&gt;b. Heliocentric    e.   Humanis&lt;br /&gt;c. Posibilis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. The figure of posibilis ideology in geographical science is....&lt;br /&gt;a. Richard Hartshorne&lt;br /&gt;b. John W. Alexander&lt;br /&gt;c. Claudius Ptolemaeus&lt;br /&gt;d. Ratzel&lt;br /&gt;e. Paul Vidal De La Blanche&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. What included in formal object of geography....&lt;br /&gt;a. Region     d.   Anthroposphere&lt;br /&gt;b. Geosphere    e.   Atmosphere&lt;br /&gt;c. Biosphere &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Phenomena of atmosphere, hydrosphere, and biosphere are learned in ..&lt;br /&gt;a. Social geography   d.   Human geography&lt;br /&gt;b. General geography   e.   Physical geography&lt;br /&gt;c. Regional geography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. In fact, geographical study about geosphere inseparable from element of region. Therefore region is....&lt;br /&gt;a. Functional object of geography&lt;br /&gt;b. Physical object of geography&lt;br /&gt;c. Material object of geography&lt;br /&gt;d. Formal object of geography&lt;br /&gt;e. Environmental object of geography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. In integrated geography, we know the main approach in analysis of earth's surface phenomena that is through ... approach.&lt;br /&gt;a. spatial, ecological and regional complex&lt;br /&gt;b. spatial, ecological, and environmental&lt;br /&gt;c. spatial, ecological, and regional&lt;br /&gt;d. spatial, regional and defusional&lt;br /&gt;e. spatial, regional complex, and technological&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Essential concepts of geography are as follows, except &lt;br /&gt;a. Location    d.   Culture&lt;br /&gt;b. Morphology    e.   Position&lt;br /&gt;c. Area difference&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. In broad outline, the scope of geography is ....&lt;br /&gt;a. Physical geography and regional geography &lt;br /&gt;b. Physical geography, human geography, and phytogeography&lt;br /&gt;c. Physical geography and human geography&lt;br /&gt;d. Physical geography, human geography, phytogeography,and zoogeography.&lt;br /&gt;e. Human geography, physical geography, and zoogeography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Learning geography requires other support sciences, if we study the atmosphere the support science is....&lt;br /&gt;a. Geology&lt;br /&gt;b. Geomorphology&lt;br /&gt;c. Hydrology&lt;br /&gt;d. Meteorology and climatology&lt;br /&gt;e. Pedology&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Human living environment consists of....&lt;br /&gt;a. Lithosphere and hydrosphere&lt;br /&gt;b. Atmosphere, hydrosphere, and bio¬sphere &lt;br /&gt;c. Hydrosphere, atmosphere, lithosphere, biosphere, and anthroposphere&lt;br /&gt;d. Hydrology, pedology, and geology&lt;br /&gt;e. Geomorphology, pedology,  and climatology&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Etymologically, geography comes from the words geo and graphien. Graphien means....&lt;br /&gt;a. Moon    c.   Illustration   e.   Area&lt;br /&gt;b. Globe    d.   Flat plane&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Basic principles of geography are as bellows, except……&lt;br /&gt;a. Spreading principle    d.   Descriptive principle&lt;br /&gt;b. Interrelationship principle   e.   Chorogical principle&lt;br /&gt;c. Naturalist principle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Study objects of geography consist of………&lt;br /&gt;a. Material and formal objects   d.   Material and Non Formal objects&lt;br /&gt;b. Formal and Non Formal objects          e.   Descriptive and analyst objects&lt;br /&gt;c. Material and Descriptive objects&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. The branch of physical geography that learns about physical and chemical properties of sea water is….&lt;br /&gt;a. Hydrology           d.   Geology&lt;br /&gt;b. Geomorphology    e.   Oceanography&lt;br /&gt;c. Hydrography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. The branch of physical geography that learns about spreading of living organisms geographically on earth’s surface is……….&lt;br /&gt;a. Hydrology           d.   Geology&lt;br /&gt;b. Geomorphology    e.   Oceanography&lt;br /&gt;c. Biogeography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Research done by a team from United States in the South Pole from 1969 to 1970 has the purpose of....&lt;br /&gt;a. Proving the truth of Wagener’s theory&lt;br /&gt;b. Proving the shape of earth is round&lt;br /&gt;c. Investigating about the influence of earth's magnetic field&lt;br /&gt;d. Investigating the influence of earth s gravitational force&lt;br /&gt;e. Investigating the content of minerals in the south pole&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. In Greek language, Pangea means....&lt;br /&gt;a. The whole earth   d.   Red light&lt;br /&gt;b. Life circumstances   e.   Rock layer&lt;br /&gt;c. Dense fog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Below are theories that discuss about happening of solar system, except....&lt;br /&gt;a. Nebular hypothesis   d.   Construction theory&lt;br /&gt;b. Planetesimal theory   e.   High and low tide theory&lt;br /&gt;c. Protoplanet theory &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Planets are formed by the presence nebula that escapes and keeps rotating, also by the influence of cooling process. That argument is according to ...&lt;br /&gt;a. Nebular hypothesis   d.   Protoplanet&lt;br /&gt;b. Planetesimal    e.   Kant theory&lt;br /&gt;c. High and low tide &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. The outer planet in our solar system that has the larger size is ….&lt;br /&gt;a. Jupiter    d.   Saturn&lt;br /&gt;b. Venus     e.   Uranus&lt;br /&gt;c. Mercury&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. One planet in our solar system that has a ring is ……..&lt;br /&gt;a. Jupiter    d.   Saturn&lt;br /&gt;b. Venus     e.   Uranus&lt;br /&gt;c. Mercury&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. The member of solar system, except……&lt;br /&gt;a. Sun     d.   Planet&lt;br /&gt;b. Galaxy     e.   Comet&lt;br /&gt;c. Asteroid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Earth’s dynamic process about the formation of mountain path, volcanic path, earthquake path and sedimentation basin on the surface of Earth that is caused by movement of plate.  That statement is the content of.... theory&lt;br /&gt;a. Nebular hypothesis   d.   Construction theory&lt;br /&gt;b. Planetesimal theory   e.   Plate tectonic theory&lt;br /&gt;c. Protoplanet theory &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. The collection of small planets that lie be¬tween Mars and Jupiter is called....&lt;br /&gt;a. Asteroid    d.   Comet&lt;br /&gt;b. Meteor     e.   Planet&lt;br /&gt;c. Supernova &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. The following that included inner planets are……..&lt;br /&gt;a. Mercury and Venus   d.   Mars and Earth&lt;br /&gt;b. Uranus and Saturn   e.   Earth and Jupiter&lt;br /&gt;c. Saturn and Neptune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. The characteristics of galaxy are as follows, except…………&lt;br /&gt;a. It has its own light&lt;br /&gt;b. It has core that light in the center&lt;br /&gt;c. It has certain shapes&lt;br /&gt;d. It is found in our solar system&lt;br /&gt;e. The location  between one galaxy to another galaxy is very far&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. A system that consist of Sun as center of revolution, planets, satellites, comet and meteor, this is the definition of…..&lt;br /&gt;a. Galaxy     d.   Solar sytem&lt;br /&gt;b. Asteroid    e.   Planets&lt;br /&gt;c. Satellites &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. The difference between star and planet is …..&lt;br /&gt;a. Planet has an orbit   d.   Star has elliptical path&lt;br /&gt;b. Star has its own light   e.   Planet has oval form&lt;br /&gt;c. Star around the planet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. The characteristics of Milky Way galaxy are as follows, except………..&lt;br /&gt;a. Its shape is like disk &lt;br /&gt;b. Its middle part is thick and getting thinner to every direction&lt;br /&gt;c. There is no star in there&lt;br /&gt;d. It is found in our solar system&lt;br /&gt;e. In its edge part is found about 20 billion stars&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. Big bang theory is provided by…….&lt;br /&gt;a. George Lemaitre   d.   Sir Fred Hoyle&lt;br /&gt;b. William Lane Craig   e.   Thomas Edison&lt;br /&gt;c. Claudius Ptolomeus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-922884174718825736?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/922884174718825736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=922884174718825736&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/922884174718825736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/922884174718825736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2009/09/exercise-for-ten-grader-acceleration.html' title='EXERCISE FOR TEN GRADER  ACCELERATION PROGRAM'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-5748429527871693045</id><published>2009-08-31T08:25:00.002+07:00</published><updated>2009-08-31T08:31:43.647+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='50 Promising Indonesian Universities'/><title type='text'></title><content type='html'>50 Promising Indonesian Universities&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2684 Institusi Pendidikan Tinggi di Indonesia, Berikut merupakan links website 50 Perguruan Tinggi Swasta yang mempunyai kredibilitas Nasional dan mempunyai keinginan untuk dapat bekerja sama secara International (Diurut secara alfabet). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ahmad Dahlan University : www.uad.ac.id&lt;br /&gt;- Airlangga University : www.unair.ac.id&lt;br /&gt;- Atma Jaya Catholic University Jakarta : www.atmajaya.ac.id&lt;br /&gt;- Atma Jaya University Yogyakarta : www.uajy.ac.id&lt;br /&gt;- Bandung Polytechnic for Manufacturing : www.polman-bandung.ac.id&lt;br /&gt;- Bandung State Polytechnic : www.polban.ac.id&lt;br /&gt;- Bina Nusantara University : www.binus.ac.id&lt;br /&gt;- Bogor Agricultural University : www.ipb.ac.id&lt;br /&gt;- Bunda Mulia University : www.bundamulia.ac.id&lt;br /&gt;- Diponegoro University : www.undip.ac.id&lt;br /&gt;- Gadjah Mada University : www.ugm.ac.id&lt;br /&gt;- Indonesian Institute of the Arts, Jogja : www.isi.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Indonesian Institute of the Arts , Denpasar : www.isi-dps.ac.id&lt;br /&gt;- Indonesian Institute of the Arts , Surakarta : www.stsi-ska.ac.id&lt;br /&gt;- Institut Teknologi Bandung : www.itb.ac.id&lt;br /&gt;- Institute Teknologi Sepuluh November : www.its.ac.id&lt;br /&gt;- Jakarta Institute of the Arts, The : www.ikj.ac.id&lt;br /&gt;- Jember University : www.unej.ac.id&lt;br /&gt;- Jenderal Soedirman University : www.unsoed.ac.id&lt;br /&gt;- Maranatha Christian University : www.maranatha.edu&lt;br /&gt;- Merdeka University – Malang : www.unmer.ac.id&lt;br /&gt;- Muhammadiyah University of Malang : www.umm.ac.id&lt;br /&gt;- Muhammadiyah University of Surakarta : www.ums.ac.id&lt;br /&gt;- Padang State Polytechnic : www.polinpdg.ac.id&lt;br /&gt;- Padang State University : www.unp.ac.id&lt;br /&gt;- Padjadjaran University : www.unpad.ac.id&lt;br /&gt;- Palangkaraya University : www.upr.ac.id&lt;br /&gt;- Pancasila University : www.univpancasila.ac.id&lt;br /&gt;- Parahyangan Catholic University : www.unpar.ac.id&lt;br /&gt;- Pasundan University : www.unpar.ac.id&lt;br /&gt;- Pelita Harapan University : www.uph.ac.id&lt;br /&gt;- Sanata Dharma University : www.usd.ac.id&lt;br /&gt;- Satya Wacana Christian University : www.uksw.edu&lt;br /&gt;- Sebelas Maret University : www.uns.ac.id&lt;br /&gt;- Soegijopranata Catholic University : www.unika.ac.id&lt;br /&gt;- Sriwijaya University : www.unsri.ac.id&lt;br /&gt;- State University of Malang : www.malang.ac.id&lt;br /&gt;- State University of Medan : www.unimed.ac.id&lt;br /&gt;- Supra School of Bussiness and Computer : www.supra.ac.id&lt;br /&gt;- Tadulako University : www.untad.ac.id&lt;br /&gt;- Telkom School of Engineering : www.stttelkom.ac.id&lt;br /&gt;- Udayana University : www.unud.ac.id&lt;br /&gt;- University of 17 Agustus 1945, The : www.untag-sb.ac.id&lt;br /&gt;- University of Bengkulu : www.unib.ac.id&lt;br /&gt;- University of Indonesia : www.ui.ac.id&lt;br /&gt;- University of Mataram : www.unram.ac.id&lt;br /&gt;- University of Surabaya : www.ubaya.ac.id&lt;br /&gt;- Widyagama University of Malang : www.widyagama.ac.id&lt;br /&gt;- Windya Mandala Catholic University Surabaya : www.wima.ac.id&lt;br /&gt;- Yogyakarta State University : www.uny.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=140&amp;Itemid=61&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-5748429527871693045?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=140&amp;Itemid=61' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/5748429527871693045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=5748429527871693045&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/5748429527871693045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/5748429527871693045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2009/08/blog-post.html' title=''/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-7366835264223573164</id><published>2009-08-23T09:29:00.004+07:00</published><updated>2009-08-31T08:18:05.973+07:00</updated><title type='text'>Peristiwa Pengangkatan (Vulkanisme)</title><content type='html'>Ini adalah foto peristiwa pengangkatan danau akibat proses vulkanisme menjadi sebuah bukit yang terjadi di Kediri (Gunung Kelud) beberapa waktu yang lalu, peristiwa ini seperti yang terjadi di Sangiran pada masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar danau sebelum terjadi pengangkatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCnp-D594I/AAAAAAAAADM/B3tE_3SXabk/s1600-h/news_563.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCnp-D594I/AAAAAAAAADM/B3tE_3SXabk/s320/news_563.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372978694928856962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skema terjadinya pengangkatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCoqYHfqAI/AAAAAAAAADU/_poQHvrQqWA/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 241px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCoqYHfqAI/AAAAAAAAADU/_poQHvrQqWA/s320/untitled.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372979801434859522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq7YaOevI/AAAAAAAAADc/5dmRPZdfk9I/s1600-h/mont%2520kelud_nov07.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 235px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq7YaOevI/AAAAAAAAADc/5dmRPZdfk9I/s320/mont%2520kelud_nov07.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372982292594457330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq7xyHb4I/AAAAAAAAADk/ghPOCjcupoA/s1600-h/kelud_e33154.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 216px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq7xyHb4I/AAAAAAAAADk/ghPOCjcupoA/s320/kelud_e33154.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372982299405545346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq8ErIPqI/AAAAAAAAADs/9mPEJhHxk6M/s1600-h/kelud_e33184.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq8ErIPqI/AAAAAAAAADs/9mPEJhHxk6M/s320/kelud_e33184.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372982304476511906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq9JjpBgI/AAAAAAAAAD0/F1FkIOdBJj8/s1600-h/kelud_e33167.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq9JjpBgI/AAAAAAAAAD0/F1FkIOdBJj8/s320/kelud_e33167.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372982322967152130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terjadi pengangkatan Gravitasi jadi terbalik, benda-benda bergerak ke arah gunung / naik ke atas. Kaleng yang diletakkan di jalan malah menggelinding naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq9vrDwNI/AAAAAAAAAD8/0xwqxpQnBbY/s1600-h/DSC00232.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCq9vrDwNI/AAAAAAAAAD8/0xwqxpQnBbY/s320/DSC00232.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372982333198811346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-7366835264223573164?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/7366835264223573164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=7366835264223573164&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/7366835264223573164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/7366835264223573164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2009/08/peristiwa-pengangkatan.html' title='Peristiwa Pengangkatan (Vulkanisme)'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2SfjBM05Ayw/SpCnp-D594I/AAAAAAAAADM/B3tE_3SXabk/s72-c/news_563.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-6786590363536507010</id><published>2009-04-16T10:37:00.001+07:00</published><updated>2009-04-16T10:52:19.485+07:00</updated><title type='text'>LEARNING BASE MULTIPLE INTELLIGENCE</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CJ-NET0%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1185024037; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1523755650 319321752 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:-; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:144.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Tahoma; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-font-weight:normal; 	mso-ansi-font-style:normal;} @list l1 	{mso-list-id:1542404425; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-436052762 319321752 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:-; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Tahoma; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2 	{mso-list-id:2012097995; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-94226318 372673574 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:117.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:117.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-weight:normal; 	mso-ansi-font-style:normal;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Manusia dilahirkan dimuka bumi ini pada dasarnya telah dibekali dengan anggota tubuh yang pastinya memiliki manfaat atau kegunaan bagi kehidupannya. Meskipun kadang ada manusia dilahirkan dengan anggota tubuh yang kurang lengkap atau kurang sempurna, disisi lain memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki manusia dengan anggota tubuh yang lengkap. Sebagai contoh orang buta, memiliki memiliki pendengaran dan perasaan yang lebih tajam dibandingkan dengan manusia biasa. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Demikian halnya dengan kecerdasan, setiap manusia telah dibekali otak untuk berpikir dan berinspirasi untuk melakukan sesuatu hal yang ia inginkan. Setiap orang tentunya memiliki bakat, minat dan kemampuan yang berbeda berdasarkan tingkat kecerdasan masing-masing, dari sini timbul pertanyaan apakah hanya seseorang yang mampu mengusai ilmu matematika dan bahasa saja yang dikatakan cerdas, pandai atau pintar? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dr. Howard Gardner, Profesor Pendidikan di Harvard University, selama bertahun-tahun telah melakukan penelitian tentang perkembangan kapasitas kognitif manusia. Dalam studinya tentang kapasitas manusia, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; mengembangkan kriteria untuk mengukur apakah bakat itu benar-benar suatu kecerdasan. Setiap kecerdasan semestinya memiliki ciri perkembangan, dapat diamati dalam populasi tertentu, misalnya pada anak yang sangat pandai (jenius) atau "pelajar yang idiot" dan memberikan beberapa bukti lokalisasi di otak dan mendukung sistem simbol atau sistem notasi. Dia telah &lt;b style=""&gt;mendobrak&lt;/b&gt; tradisi umum teori kecerdasan yang menganut dua asumsi dasar : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Bahwa kognisi manusia itu bersifat satuan &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Setiap individu dapat dijelaskan sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan yang dapat diukur dan tunggal&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kecerdasan adalah bahasa-bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian dipengaruhi oleh kebudayaan di mana ia dilahirkan. Merupakan alat untuk belajar, menyelesaikan masalah, dan menciptakan semua hal yang bisa digunakan manusia. Dalam bukunya Frames of Mind, tahun 1983 &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; menampilkan Theory of Multiple Intelligence yang memperkuat perspektifnya tentang kognisi manusia. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; membagi kecerdasan manusia menjadi tujuh jenis kecerdasan yang berbeda-beda dan menggunakannya dengan cara-cara yang sangat per­sonal. Ketika kebanyakan orang memiliki spektrum kecerdasan yang penuh, setiap individu menunjukkan perbedaan ciri-ciri kognitif. Berikut ini deskripsi tujuh kecerdasan manusia menurut &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;Linguistic intelligence&lt;/i&gt; (kecerdasan linguistik) adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pengarang, penyair, jurnalis, pembicara, dan penyiar berita, memiliki tingkat kecerdasan linguistik yang tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;Logical-mathematical intelligence&lt;/i&gt; (kecerdasan logika-matematika) merupakan kemampuan dalam menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ilmuwan, ahli matematika, akuntan, insinyur, dan pemrogram komputer, semuanya menunjukkan kecerdasan logika-matematika yang kuat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;Spatial intelligence &lt;/i&gt;(kecerdasan spasial) membangkitkan kapasitas untuk berpikir dalam tiga cara dimensi seperti yang dapat dilakukan oleh pelaut, pilot, pemahat, pelukis, dan arsitek. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk merasakan bayangan eksternal dan internal, melukiskan kembali, merubah, atau memodifikasi bayangan, mengemudikan diri sendiri dan objek melalui ruangan, dan menghasilkan atau menguraikan informasi grafik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;(4)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;Bodily-kinesthetic intelligence&lt;/i&gt; (kecerdasan kinestetik-tubuh) memungkinkan seseorang untuk menggerakkan objek dan ketrampilan-ketrampilan fisik yang halus. (jelas kelihatan pada diri atlet, penari, ahli bedah, dan seniman yang mempunyai ketrampilan teknik. Pada masyarakat Barat, ketrampilan-ketrampilan fisik tidak dihargai sebesar ketrampilan kognitif seseorang, tapi kemampuan ini hanya digunakan untuk bertahan hidup dan sebagai ciri penting pada peran-peran bergengsi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;(5)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;Musical intelligence&lt;/i&gt; (kecerdasan musik) jelas kelihatan pada seseorang yang memiliki sensitivitas pada pola titi nada, melodi, ritme, dan nada. Orang-orang yang memiliki kecerdasan ini antara lain: komposer, konduktor, musisi, kritikus dan pembuat alat musik begitupun pendengar yang sensitif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;(6)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;Interpersonal Intelligence&lt;/i&gt; (kecerdasan inter­personal) merupakan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Hal ini terlihat pada guru, pekerja sosial, artis atau politisi yang sukses. Sebagaimana budaya barat mulai mengenalkan hubungan antara akal dan tubuh, maka hal ini perlu disadari kembali pentingnya nilai dari keahlian dalam perilaku interpersonal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;(7)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;Intrapersonal intelligence&lt;/i&gt; (kecerdasan intrapersonal) merupakan kemampuan untuk membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Beberapa individu yang memiliki kecerdasan semacam ini adalah ahli ilmu agama, ahli psikologi, dan ahli filsafat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; mengungkapkan bahwa kecerdasan seharusnya tidak terbatas pada apa yang telah ia jelaskan. Namun dia meyakini bahwa tujuh kecerdasan di atas memberikan gambaran kapasitas manusia yang jauh lebih akurat daripada teori "kecerdasan tunggal" sebelumnya. Apa yang dikatakan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; mencerminkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan tersendiri pada hal-hal yang berbeda satu sama lain dan setiap orang berhak mendapatkan penghargaan dengan apa yang dikaruniakan kepadanya. Kebalikan dengan deret kemampuan yang diukur oleh tes standar, teori &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; memperluas &lt;i style=""&gt;image&lt;/i&gt; yang berarti bagi manusia. la juga menegaskan bahwa setiap kecerdasan mengandung beberapa sub-kecerdasan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aspek lainnya mengenai &lt;i style=""&gt;Multiple Intelligence&lt;/i&gt; adalah kecerdasan ini bisa dikonseptualisasikan ke dalam tiga kategori besar. Kecerdasan spasial, logika-matematika, dan &lt;i style=""&gt;kinestetik&lt;/i&gt;-tubuh dipandang sebagai bentuk-bentuk kecerdasan yang "&lt;b style=""&gt;berkaitan dengan objek&lt;/b&gt;". Kapasitas ini dikontrol dan dibentuk oleh objek-objek yang ada dalam kehidupan seseorang. Sebaliknya, kecerdasan "&lt;b style=""&gt;yang bebas dari objek&lt;/b&gt;" terdiri atas kecerdasan &lt;i style=""&gt;verbal-linguistik&lt;/i&gt; dan kecerdasan musik, yang tidak dibentuk oleh dunia fisik tapi tergantung pada sistem bahasa dan sistem musik. Kategori yang ketiga terdiri atas kecerdasan "&lt;b style=""&gt;yang berkaitan dengan manusia&lt;/b&gt;" yaitu kecerdasan &lt;i style=""&gt;interpersonal&lt;/i&gt; dan kecerdasan &lt;i style=""&gt;intrapersonal&lt;/i&gt; yang menunjukkan rangkaian perimbangan (&lt;i style=""&gt;counterbalance&lt;/i&gt;}yang kuat. Setiap kecerdasan tampak memiliki urutan perkembangan sendiri, tumbuh dan menjelma pada waktu yang berbeda dalam suatu kehidupan. Sebagaimana kecerdasan personal memerlukan interaksi yang ekstensif dan umpan balik (&lt;i style=""&gt;feedback&lt;/i&gt;) dari orang lain sebelum berkembang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; mempercayai bahwa karena setiap kecerdasan dapat digunakan untuk tujuan yang baik ataupun buruk, maka semua kecerdasan ini terlepas dari penghargaan (&lt;i style=""&gt;value-free&lt;/i&gt;}. Jelas sekali bahwa kreativitas dapat diekspresikan melalui semua kecerdasan. Namun Gardner menegaskan bahwa kebanyakan manusia itu kreatif, dalam domain yang spesifik. Misalnya, meskipun Einstein memiliki bakat di bidang matematika dan sains, namun dia tidak memiliki kecerdasan di bidang linguistik, kinestetik dan interpersonal yang seimbang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kebanyakan orang memiliki satu atau dua kecerdasan dalam dirinya, dan tidak semua orang akan menjadi artis, ilmuwan atau penulis besar. Jika individu memiliki peluang untuk belajar melalui kelebihannya, maka akan muncul perubahan-perubahan kognitif, emosional, sosial, bahkan perubahan fisik yang positif dan menakjubkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pembatasan pada program pendidikan kita yang hanya berfokus pada kecerdasan linguistik dan matematis dalam porsi yang lebih besar, telah meminimalisir arti penting bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. Dengan demikian, siswa yang gagal untuk menunjukkan kecerdasan "akademik tradisional", mendapat penghargaan yang rendah dan potensi mereka tetap tak terwujudkan, kemudian hilang di sekolah dan masyarakat pada umumnya. Sekolah-sekolah Menengah yang ada di negeri kita dewasa ini selalu mengikuti pengembangan pengetahuan yang dijadikan standar untuk masuk Perguruan Tinggi. Seandainya saja setiap Perguruan Tinggi yang ada, menerapkan tes yang spesifik berdasarkan ciri dan kemampuan yang akan dikembangkan di setiap fakultas tentulah akan mendorong perubahan pada pola pendidikan di Sekolah Menengah. Sebagai contoh : fakultas Psikologi dan Ilmu Agama lebih menerapkan tes yang berhubungan dengan kecerdasan &lt;i style=""&gt;Intrapersonal&lt;/i&gt; dan tidak hanya tes kemampuan standart, tentulah akan menghasilkan lulusan-lulusan yang lebih menguasai bidangnya. Tidak seperti yang kita lihat saat ini, banyak lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya, disisi lain banyak lulusan yang tidak menguasai bidang yang ditempuhnya selama di Perguruan Tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penelitian Gardner telah menguak rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas daripada kepercayaan manusia sebelumnya, serta menghasilkan definisi tentang konsep kecerdasan yang sungguh pragmatis dan menyegarkan. &lt;st1:city st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:city&gt; tidak memandang "kecerdasan" manusia berdasarkan skor tes IQ standar semata, namun &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gardner&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; menjelaskan kecerdasan sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan meimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-6786590363536507010?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/6786590363536507010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=6786590363536507010&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/6786590363536507010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/6786590363536507010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2009/04/learning-base-multiple-intelligence.html' title='LEARNING BASE MULTIPLE INTELLIGENCE'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-7920411840652962528</id><published>2009-01-13T06:59:00.002+07:00</published><updated>2009-01-13T07:05:01.149+07:00</updated><title type='text'>TYPES OF AQUIFERS</title><content type='html'>Most aquifers are of large areal extent and may be visualized as underground storage reservoirs. Water enters a reservoir from nat&amp;shy;ural or artificial recharge; it flows out under the action of gravity or is extracted by wells. Ordinarily, the annual volume of water re&amp;shy;moved or replaced represents only a small fraction of the total stor&amp;shy;age capacity. Aquifers may be classed as unconfined or confined, depending on the presence or absence of a water table, while a leaky aquifer represents a combination of the two types.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Unconfined Aquifer.&lt;/em&gt; An unconfined aquifer is one in which a water table varies in undulating form and in slope, depending on areas of recharge and discharge, pumpage from wells, and perme&amp;shy;ability. Rises and falls in the water table correspond to changes in the volume of water in storage within an aquifer. Contour maps, and profiles of the water table can be prepared from elevations of water in wells that tap the aquifer to determine the quantities of water available and their distribution and movement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A special case of an unconfined aquifer involves perched water bodies, as illustrated in the picture above. This occurs wherever a ground-water body is separated from the main groundwater by a relatively impermeable stratum of small areal extent and by the zone of aera&amp;shy;tion above the main body of groundwater. Clay lenses in sedimen&amp;shy;tary deposits often have shallow perched water bodies overlying them. Wells tapping these sources yield only temporary or small quantities of water.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Confined Aquifers.&lt;/em&gt; Confined aquifers, also known as artesian or pressure aquifers, occur where groundwater is confined under pressure greater than atmospheric by overlying relatively impermeable strata. In a well penetrating such an aquifer, the water level will rise above the bottom of the confining bed, as shown by the artesian and flowing wells. Water enters a confined aquifer in an area where the confining bed rises to the surface; where confining bed ends underground, the aquifer becomes unconfined. A region supplying water to a confined aquifer is known as a recharge area; water may also enter by leakage through a confining bed (see below). Rises and falls of water in wells penetrating confined aquifers result primarily from changes in pressure rather than changes in storage volumes. Hence, confined aquifers display only small changes in storage and serve primarily as conduits for conveying water from recharge areas to locations of natural or arti&amp;shy;ficial discharge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The piezometric surface, or potentiometric surface, of a confined aquifer is an imaginary surface coinciding with the hydrostatic pressure level of the water in the aquifer. The water level in a well penetrating a confined aquifer defines the elevation of the piezometric surface at that point. Should the piezometric surface lie above ground surface, a flowing well results. Contour maps and pro&amp;shy;files of the piezometric surface can be prepared from well data sim&amp;shy;ilar to those for the water table in an unconfined aquifer. It should be noted that a confined aquifer becomes an unconfined aquifer when the piezometric surface falls below the bottom of the upper confining bed. Also, quite commonly an unconfined aquifer exists above a confined one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Leaky Aquifer&lt;/em&gt;. Aquifers that are completely confined or uncon&amp;shy;fined occur less frequently than do leaky, or semiconfined, aquifers. These are a common feature in alluvial valleys, plains, or former lake basins where a permeable stratum is overlain or underlain by a semipervious aquitard, or semiconfining layer. Pumping from a well in a leaky aquifer removes water in two ways: by horizontal flow within the aquifer and by vertical flow through the aquitard into the aquifer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Reference : Todd, Ground Water Hidrology)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-7920411840652962528?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/7920411840652962528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=7920411840652962528&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/7920411840652962528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/7920411840652962528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2009/01/types-of-aquifers.html' title='TYPES OF AQUIFERS'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-2945256848226347506</id><published>2008-10-29T08:14:00.002+07:00</published><updated>2008-10-29T08:23:15.826+07:00</updated><title type='text'>Penelitian Banjir dengan Citra Satelit</title><content type='html'>Banjir merapakan satu bahaya alam (natural hazard) yang terjadi di alam ini dimana air menggenangi lahan-lahan rendah di sekitar sungai sebagai akibat ketidakmampuan alur sungai menampung dan mengalirkan air, sehingga air meluap keluar alur melampaui tanggul dan menggenangi daerah sekitarnya seperti dataran banjir dan dataran alluvial (Dibyosaputro, 1998) Kerentanan banjir suatu daerah adalah suatu keadaan mudah tidaknya daerah tersebut dilanda dan tergenang banjir. Wilayah banjir biasanya terletak pada daerah yang datar, berdekatan dengan sungai besar, serta berdrainase jelek karena selain faktor kemiringan lereng juga disebabkan oleh faktor tanah yang ada. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menanggulangi bahaya banjir adalah dengan melakukan penelitian tentang bahaya banjir, baik usaha penelitian secara langsung di lapangan maupun dengan alat bantu seperti Penginderaan Jauh. Usaha penelitian secara langsung dapat dilakukan dengan survai terrestrial. Survai terrestrial yaitu survai yang dilakukan secara langsung pada daerah penelitian atau lapangan. Pengambilan sampel-sampel di lapangan biasanya dilakukan dengan membuat kotak-kotak atau grid untuk mempermudah survai secara terrestrial.   Hal ini dimaksudkan agar sample yang diambil mempunyai kesamaan koordinat dengan peta acuan. Banyaknya sampel yang diambil tergantung pada kedetailan skala, semakin detail skala maka semakin banyak sampel yang diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penginderaan Jauh mempunyai keunggulan dibanding dengan survai terrestrial secara langsung. Dari penginderaan jauh dapat dihemat baik biaya, tenaga maupun waktu karena beberapa parameter dari data dapat disadap secara langsung dari citra. Dari penginderaan jauh didapat pula kemudahan pengambilan sampel di lapangan untuk data-data yang belum dapat disadap oleh citra, yaitu dengan cara melihat gambaran wilayah secara umum daerah cakupan citra dan membuat zona-zona tertentu yang mempunyai karakteristik yang sama. Teknologi penginderaan jauh mempunyai peranan yang penting dalam hal ini. Pada dasarnya, teknologi berbasis satelit ini menyajikan informasi awal kondisi wilayah. Keunggulan utamanya adalah menyajikan informasi aktual dan akurat tanpa adanya kontak langsung dengan obyek. Data satelit punya keunggulan dibandingkan peta atau foto udara, karena bisa menyajikan informasi tentang karakteristik spektral obyek di permukaan bumi yang tidak dapat ditangkap oleh mata telanjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensor satelit multispektral dapat memilah pantulan gelombang elektromagnetik yang datang dari permukaan bumi. Dengan demikian obyek yang menurut mata telanjang serupa, akan tampak sangat berbeda pada citra satelit. Teknologi pemindai (scanner) penginderaan jauh saat ini mampu menghasilkan lapisan spektrum (spektral layers) yang disebut sistem hiper spektral. Setiap layer mempunyai bit-coding antara 8 hingga 16 bit (atau bahkan lebih, seiring perkembangan teknologi saat ini). Sebagai perbandingan scanner meja saat ini yang hanya dapat menghasilkan sekitar 4 sektral layers sehingga total bit-coding yang dimiliki hanya sekitar 36-42 bit. Seluruh lapisan spektrum (spektral layers) dapat dikombinasikan untuk menghasilkan bermacam citra baru, misalnya informasi daerah yang selalu lembab karena genangan, daerah erosi intensif, daerah yang berada pada jalur sesar/patahan sehingga rawan gempa, kemudian disajikan dalam bentuk peta (Danoedoro, dalam Kompas, 2002). Keunggulan lain dari citra penginderaan jauh adalah luas cakupan daerah liputan jika dibandingkan dengan foto udara. Disamping itu citra penginderaan jauh juga mempunyai resolusi temporal, yaitu periode perekaman ulang pada daerah yang sama. Jadi pada daerah yang sama terjadi secara otomatis akan terekam pada waktu yang berbeda, secara periodik. Hal ini akan sangat berguna untuk monitoring suatu daerah yang akan diteliti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada foto udara sebenarnya juga dapat dilakukan pemotretan ulang secara periodik, pada daerah tertentu akan tetapi ini akan memakan biaya yang sangat mahal. Dengan perhitungan efisiensi, resolusi temporal dan luas cakupan citra penginderaan jauh yang cukup luas, menjadi sangat cocok untuk inventarisasi dan monitoring bencana banjir yang terjadi di Indonesia, ditambah tidak semua wilayah Indonesia terliput foto udara. Dalam penelitian ini akan mengacu pada beberapa informasi yang dapat disadap oleh citra yang merupakan parameter-parameter banjir. Parameter-parameter yang dapat digunakan untuk menentukan daerah rawan banjir adalah kondisi fisik lahan suatu daerah yang terdiri dari bentuklahan, kemiringan lereng, penutup lahan dan kelembaban tanah. Data lain yang membantu pelaksanaan adalah data curah hujan dan cek lapangan yang berguna untuk menguji dan meyakinkan kebenaran hasil interpretasi dari citra. Parameter penutup lahan dapat diperoleh dari citra dengan cara interpretasi dan deliniasi baik dengan secara manual maupun digital. Untuk mendapatkan parameter kelembaban tanah dapat didefinisikasi secara langsung melalui citra Landsat yaitu dengan menggunakan kombinasi tiap-tiap saluran, saluran 1 sampai saluran 5 dan saluran 7. Saluran 6 tidak dipakai karena saluran ini merupakan saluran inframerah termal dan mempunyai resolusi spasial yang berbeda sendiri dibanding saluran 1-5dan 7, yaitu 120 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMROSESAN DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemrosesan data digital citra Landsat TM meliputi perbaikan citra baik yang diakibatkan oleh sensor citra berupa kesalahan yang diakibatkan oleh gangguan atmosfer maupun kesalahan yang diakibatkan oleh kelengkungan bumi. Pemrosesan citra ini dilakukan dengan komputer yaitu meliputi koreksi radiometrik dan geometrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koreksi Radiometrik&lt;br /&gt;Koreksi radiometrik adalah koreksi pada citra dan kesalahan pada sensor yang diakibatkan oleh gangguan atmosfer. Gangguan ini mengakibatkan perubahan pada nilai piksel, karena akibat hamburan dan serapan radiasi gelombang elektromagnetik oleh atmosfer. Metode yang digunakan dalam koreksi radiometrik adalah penyesuaian histogram. Prinsip dasar dari metode ini adalah melihat nilai minimum dari masing-masing histogram yang dianggap sebagai nilai bias. Nilai yang telah terkoreksi adalah nilai asli dikurangi dengan nilai bias minimum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koreksi Geometrik&lt;br /&gt;Ada dua cara untuk melakukan koreksi geometri yang pertama adalah rektifikasi geometri. Rektifikasi geometri adalah mengubah aspek geometri pada citra dengan cara merujuk pada proyeksi peta yang baku, sehingga koordinat pada citra menjadi sama dengan koordinat pada peta yang digunakan sebagai data acuan. Proses yang digunakan dalam koreksi geometri dengan cara rektifikasi geometri adalah dengan transformasi koordinat dan resampling. Metode yang digunakan adalah dengan metode GCP (ground control point), yaitu membandingkan titik-titik kontrol pada citra dan titik-titik kontrol pada peta. Pengambilan titik kontrol harus mewakili dan merata pada seluruh citra. untuk memudahkan dalam pengambilan titik kontrol, obyek yang dipilih sebagai titik kontrol adalah obyek yang mudah dikenali pada citra, seperti posisi jalan, sungai dan kenampakan obyek yang khas. Cara   yang   kedua   adalah   dengan   registrasi   citra   yaitu   dengan mendaftarkan koordinat citra yang belum terkoreksi dengan koordinat citra yang sudah terkoreksi yang mempunyai daerah yang sama, atau (map to map transformation).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposit Citra&lt;br /&gt;Komposit citra adalah menggabungkan tiga saluran pada citra Landsat TM dengan tujuan untuk mempermudah dan memperjelas kenampakan suatu obyek dalam identifikasi pada citra. Komposit yang digunakan dalam hal ini adalah 543, sesuai dengan kegunaannya yaitu untuk klasifikasi penggunaan lahan. Komposit 543 adalah menempatkan warna merah pada saluran 5, warna hijau pada saluran 4 dan warna biru pada saluran 3. Ini berarti jika pantulan vegetasi pada citra Landsat TM paling tinggi pada saluran 4 (inframerah) maka pada komposit 543 vegetasi akan berwarna hijau atau gradasi dari hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemotongan Citra&lt;br /&gt;Sebelum citra diolah untuk mendapatkan parameter-parameter banjir, seperti penggunaan lahan, bentuklahan dan kelembaban tanah, maka terlebih, dahulu dilakukan pemotongan sesuai dengan daerah penelitian. Hal ini dikarenakan luas cakupan citra yang cukup besar, dengan pemotongan citra yang sesuai dengan luas cakupan daerah penelitian diharapkan dapat mempermudah pengolahan citra selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISIS DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data citra Landsat TM dapat disadap beberapa parameter tentang kerawanan terhadap bahaya banjir, seperti kemiringan lereng, penggunaan lahan, bentuklahan dan kelembaban tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiringan Lereng&lt;br /&gt;Kemiringan lereng diperoleh dari model tiga dimensi daerah penelitian. Secara lebih sederhana kemiringan lereng merupakan penurunan dari model tiga dimensi. Model tiga dimensi diperoleh dari analisis peta kontur, yaitu merubah garis kontur menjadi data Digital Elevation Model (DEM). Dari model tiga dimensi ini juga dapat diturunkan informasi kemiringan lereng, dan dengan digabungkan dengan informasi pada citra dapat juga diperoleh bentuklahan daerah penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuklahan&lt;br /&gt;Bentuklahan merupakan bagian dari permukaan bumi yang mempunyai bentuk khas sebagai akibat dari proses dan struktur batuan selama periode tertentu. Oleh karena itu keberadaannya ditentukan oleh faktor : topografi, struktur/batuan dan proses eksogenetik, sehingga termasuk bentukan hasil proses destruktif. Untuk membuat klasifikasi bentuklahan ada tiga kriteria yang digunakan sebagai pedoman yaitu :&lt;br /&gt;1.   Kriteria Bentuk atau Relief&lt;br /&gt;Kriteria ini mendasarkan klasiflkasi bentuklahan berdasarkan bentuk atau relief dari permukaan bumi yang dapat dilihat pada citra berdasarkan pada bayangannya. &lt;br /&gt;2.  Kriteria Density, kriteria ini didasarkan pada tingkat rona pada citra pada saluran tertentu dan warna pada citra komposit, karena setiap obyek akan mempunyai karakteristik tertentu dengan warna yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;3.   Kriteria Lokasi&lt;br /&gt;Bentuklahan tertentu akan terbentuk pada lokasi tertentu pula. Jadi setiap lokasi pada suatu daerah mempunyai karakteristik terhadap bentuklahannya. Untuk memperoleh bentuk lahan daerah penelitian tidak cukup dengan melihat pada citra dari model tiga dimensi akan tetapi juga menggunakan data yang diperoleh dari peta geologi mengenai struktur batuan daerah penelitian. Sedangkan batasan antar tipe bentuklahan dapat dilihat pada citra dengan menggunakan tiga kriteria diatas dengan koreksi peta geologi melalui tumpang tindih atau overlay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan Lahan&lt;br /&gt;Untuk mempermudah dalam klasifikasi penggunaan lahan terutama dalam membedakan vegetasi dan non-vegetasi maka digunakan komposit citra dalam hal ini komposit yang diambil 543. Kedetailan penggunaan lahan tergantung pada besar kecilnya skala yang digunakan. Dari komposit 543 penggunaan lahan daerah penelitian dapat diketahui bahwa tubuh air akan terekam dengan warna biru, permukiman dengan wama merah dan vegetasi dengan warna hijau. Berdasarkan warna dari citra akan mempermudah dalam klasifikasi penggunaan lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelembaban Tanah&lt;br /&gt;Kelembaban tanah permukaan adalah air yang mengisi pori-pori horizon tanah atau lapisan tanah bagian atas. Setiap permukaan tanah mempunyai kelembaban tanah yang berbeda-beda dan mempunyai karakteristik nilai pantulan pada sensor yang berbeda-beda pula. Dengan hubungan bahwa suatu tanah yang mempunyai kelembaban yang tinggi mengasumsikan bahwa tanah tersebut sering tergenang air, sehingga dari sini didapat hubungan bahwa semakin tinggi kelembaban tanah maka semakin sering tanah tersebut tergenang dan mempunyai kerawanan yang tinggi terhadap banjir. Demikian pula sebaliknya jika kelembaban tanah semakin rendah maka semakin jarang pula daerah tersebut tergenang air dan kerawanan banjir juga semakin rendah. Kelembaban tanah diperoleh dengan pendekatan indeks kebasahan (wetness), dengan asumsi bahwa nilai kebasahan adalah yang paling mendekati kelembaban tanah. Nilai kebasahan ini selanjutnya   digunakan   sebagai nilai kelembaban tanah. Untuk mengetahui kebasahan tanah pada suatu tempat dengan menggunakan citra Landsat  TM  dapat  menggunakan  formula  yang  merupakan pengkalian, penambahan dan pengurangan pada saluran 1, saluran 2, saluran 3, saluran 4, saluran 5 dan saluran 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formula matematis untuk mencari kebasahan tanah atau wetness:&lt;br /&gt;= (TM1*0.1509) + (TM2*0.1973) + (TM3*0.3279) + (TM4*0.3406) +&lt;br /&gt;   (TM5*-0.7112) + (TM7*-0.4572) &lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;TM 1    = Landsat TM Saluran 1,  TM 2   = Landsat TM Saluran 2, dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekaman citra yang dilakukan pada musim kemarau dapat menambah keakuratan keterkaitan antara kelembaban tanah dengan kerawanan banjir, karena kelembaban tanahnya bukan terjadi karena hujan sesaat, akan tetapi merupakan kelembaban tanah aktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BASIS DATA KERENTANAN BANJIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyajian basis data ini berupa tabel hubungan antara penggunaan lahan, kelembaban tanah, kemiringan lereng dan bentuklahan dengan tingkat kerentanan banjir. Penyajian basis data dibuat berdasarkan pada kenampakan setiap obyek pada citra Landsat TM yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda pada setiap parameternya. Dari sini dapat ditentukan skor pada masing-masing parameter. Perbedaan skoring disebabkan karena setiap parameter mempunyai potensi atau pengaruh yang berbeda terhadap kejadian banjir, sehingga tingkat kerawanan banjirnyapun berbeda pula. Penentuan skor pada masing-masing kelas mempunyai interval 2,5 dengan nilai bulat 10 dan nilai tekecil 2,5, adapun jika parameter tersebut mempunyai perbedaan yang mencolok seperti bentuklahan maka pemberian skornya mempunyai perbedaan yang besar berdasarkan pada perbedaan kelas dari parameter tesebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PETA KERENTANAN BANJIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta kerentanan banjir dihasilkan dari basis data kerawanan banjir, yaitu merupakan tumpang susun dari peta penggunaan lahan, kemiringan lereng, bentuklahan, dan kelembaban tanah. Adapun formula yang digunakan untuk mendapatkan peta kerentanan banjir adalah :&lt;br /&gt;KB = (B1*4) + (KL*3) + (KT*1,5) + (PL*1,5)&lt;br /&gt;KB = Kerentanan Banjir&lt;br /&gt;Bl  = Bentuklahan&lt;br /&gt;KL  = Kemiringan Lereng&lt;br /&gt;KT  = Kelembaban Tanah&lt;br /&gt;PL  = Penggunaan Lahan&lt;br /&gt;Angka-angka sebagai faktor pekali atau bobot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UJI KETELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ketelitian dimaksudkan untuk mencocokkan atau menguji kebenaran hasil interpretasi dengan keadaan sesungguhnya di lapangan. Dalam hal ini uji ketelitian mencakup beberapa kegiatan yaitu : 1. Memilih titik-titik pada peta yang akan digunakan untuk uji ketelitian, metode yang digunakan adalah purposive sampling dan stratified sampling. 2. Mencocokkan parameter hasil analisis penginderaan jauh dengan parameter yang ada di lapangan. 3. Wawancara   dengan penduduk setempat untuk memperoleh keterangan mengenai banjir, meliputi:&lt;br /&gt;- Peristiwa banjir (tahun terjadinya banjir)&lt;br /&gt;- Karakteristk banjir (periode ulang, lama genangan dan kedalaman  genangan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rofiqfa 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-2945256848226347506?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/2945256848226347506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=2945256848226347506&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/2945256848226347506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/2945256848226347506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2008/10/penelitian-banjir-dengan-citra-satelit.html' title='Penelitian Banjir dengan Citra Satelit'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-8672479425585616732</id><published>2008-09-16T11:18:00.004+07:00</published><updated>2008-09-26T13:10:13.549+07:00</updated><title type='text'>Asuhan Kebidanan Neonatus Umur 1 Bulan</title><content type='html'>PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Pelayanan kesehatan neonatal harus di mulai sebelum bayi di lahirkan melalui pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. Berbagai bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap faktor-faktor yang memperlemah kondisi ibu hamil perlu di prioritaskan seperti ; gizi yang rendah, anemia, dekatnya jarak antara kehamilan. Di samping itu perlu dilakukan pula pembinaan kesehatan prenatal yang memadai dan penanggulangan faktor-faktor yang menyebabakan kematian perinatal yang meliputi; perdarahan, hipertensi, infeksi, kelahiran preterm/bayi berat lahir rendah, asfiksia, hipotermi.&lt;br /&gt;Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi periode neonatal merupakan periode yang kritis, pencegahan asfiksia, mempertahankan suhu tubuh bayi terutama pada bayi berat lahir rendah. Pemberian ASI dalam usaha menurunkan angka kematian oleh karena diare, pencegahan terhadap infeksi, pemantauan kenaikan berat dan stimulasi psikologis merupakan tugas pokok bagi pemantau keehatan bayi dan anak.&lt;br /&gt;Neonatus pada minggu pertama sangat dipengaryhi oleh kondisi ibu pada waktu hamil dan melahirkan. Manajemen yang baik pada waktu masih dalam kandungan, selama persalinan, segera sesudah dilahirkan dan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya akan menghasilkan bayi yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGAWASAN TUMBUH KEMBANG BAYI&lt;br /&gt;1. PENGERTIAN TUMBUH KEMBANG&lt;br /&gt;Pertumbuhan dan perkembangan termasuk suatu proses yang saling berkaitan dan sulit dipisahkan.&lt;br /&gt; Pertumbuhan&lt;br /&gt;Adalah suatu proses perubahan fisik (anatomis) yang ditandai dengan bertambahnya ukuran berbagai organ tubuh yang disebabkan adanya penambahan perbesaran sel-sel tubuh.&lt;br /&gt; Perkembangan&lt;br /&gt;Adalah suatu proses menuju terciptanya kedewasaan yang ditandai bertambahnya kemampuan/ketrampilan yang menyangkut struktur tubuh yang berkaitan dengan aspek non fisik.&lt;br /&gt;Jadi yang dimaksud dengan pertumbuhan dan perkembangan adalah; suatu proses pertumbuhan fisik yang ditandai bertambahnya ukuran organ tubuh karena pertumbuhan sel dan suatu proses aspek non fisik menuju terciptanya kedewasaan yang ditandai dengan bertambahnya kemampuan/ketrampilan yang menyangkut struktur dan fungsi tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. TUJUAN&lt;br /&gt;Tujuan mempelajari pertumbuhan dan perkembangan bayi adalah:&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui tumbuh kembang bayi yang normal.&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui adanya kelainan dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi sedini mungkin.&lt;br /&gt;3. Untuk mengarahkan agar pertumbuhan dan perkembanagn bayi langsung selaras sesuai dengan usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. TAHAP/FASE TUMBUH KEMBANG ANAK&lt;br /&gt;1. Fase neonatus : Sejak lahir sampai umur 4 minggu&lt;br /&gt;2. Fase bayi : 4 minggu sampai dengan 1 tahun&lt;br /&gt;3. Fase prasekolah/balita : 1 sampai dengan 5 tahun&lt;br /&gt;4. Fase anak sekolah : 6 sampai dengan 12 tahun&lt;br /&gt;5. Fase remaja : 12 sampai dengan 18 atau 21 tahun(belum&lt;br /&gt;menikah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. PENGAWASAN MASA BAYI&lt;br /&gt;Pada masa ini bayi dilengkapi dengan beberapa kemampuan yaitu intrinsik dan reflek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Intrinsik&lt;br /&gt;Yaitu kemampuan yang telah ada sejak lahir melalui rangsangan-rangsangan dengan cara yang khas.&lt;br /&gt;Contoh: bayi akan tersenyum bilas dia diajak berbicara ibunya walaupun ia belum mengerti kata-kata yang diucapkan ibunya.&lt;br /&gt;b. Reflek&lt;br /&gt;Yaitu suatu gerakan yang terjadi secara otomatis dan spontan tanpa disadari pada bayi normal.&lt;br /&gt;1. Tonik neek reflek&lt;br /&gt;Gerakan spontan otot kuduk pada bayi normal, bila ditengkurapkan akan scara spontan memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;2. Rooting reflek&lt;br /&gt;Bila jarinya menyentuh daerah sekitar mulut bayi maka ia akan membuka mulutnya dan memiringkan kepalanya kearah datangnya jari.&lt;br /&gt;3. Grasping reflek&lt;br /&gt;Bila jari kita menyentuh telapak tangan bayi maka jari-jarinya akan langsung menggenggam sangat kuat.&lt;br /&gt;4. Moro reflek&lt;br /&gt;Reflek yang timbul diluar kemauan/kesadaran bayi.&lt;br /&gt;Contoh : bila bayi diangkat/direnggut secara kasar dari gendongan kemudian seolah-olah bayi melakuakn gerakan yang mengangkat tubuhnay pada orang yang mendekapnya.&lt;br /&gt;5. Startle reflek&lt;br /&gt;Reaksi emosional berupa hentakan dan gerakan seperti mengejang pada lengan dan tangan dan sering diikuti dengan tangis.&lt;br /&gt;6. Stapping reflek&lt;br /&gt;Reflek kaki secara spontan apabila bayi diangkat tegak dan kakinya satu persatu disentuhkan pada satu dasar maka bayi seolah –olah berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. PERTUMBUHAN BB/TB/LK&lt;br /&gt; Pertumbuhan Berat Badan selama masa bayi.&lt;br /&gt;- Triwulan I : 1-3 bulan, kenaikan rata-rata 700-1000 gr&lt;br /&gt;- Triwulan II : 4-6 bulan, kenaikan rata-rata 500-600 gr&lt;br /&gt;- Triwulan III : 7-9 bulan, kenaikan rata-rata 350-450 gr&lt;br /&gt;- Triwulan IV : 10-12 bulan, kenaikan rata-rata 250-350 gr&lt;br /&gt; Pertumbuhan Panjang Badan&lt;br /&gt;- Triwulan I : 10 cm&lt;br /&gt;- Triwulan II : 6 cm&lt;br /&gt;- Triwulan III : 5 cm&lt;br /&gt;- Triwulan IV : 4 cm&lt;br /&gt; Pertumbuhan Lingkar Kepala&lt;br /&gt;- Triwulan I : penambahan 2 cm/bulan&lt;br /&gt;- Triwulan II : penambahan 1 cm/bulan&lt;br /&gt;- Triwulan III : penambahan 2 cm/bulan&lt;br /&gt;- Triwulan IV : penambahan 1 cm/bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. TANDA-TANDA PERKEMBANGAN BAYI 0-3 BULAN&lt;br /&gt;Gerakan kasar Gerakan halus Bicara, bahasa, kecerdasan Bergaul dan Mandiri&lt;br /&gt;Menggerakkan kedua tungkai dan lengan sama mudahnya ketika telentang Memberikan reaksi dan melihat kearah sumber cahaya. Mengeluarkan suara (mengoceh) Membalas senyuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. STIMULASI PERKEMBANGAN BAYI 0-3 BULAN&lt;br /&gt;a. Pengungkapan rasa cinta, kasih sayang dan rasa aman&lt;br /&gt;Berbicara lembut, memeluk, membelai, mencium, menyanyikan lagu.&lt;br /&gt;b. Menirukan ocehan, gerakan mimik anak.&lt;br /&gt;Anak sering diajak bicara dan mendengarkan berbagai suara misalnya: suara burung, radio, kerincingan.&lt;br /&gt;c. Melatih anak membalikkan badan dari terlentang ke telungkup&lt;br /&gt;Ketika telentang anak dibuat agar memperhatikan benda yang menarik(berwarna, menyolok/berbunyi) benda itu kemudian digerakkan kesisi badannya, anak akan mengikuti benda itu sambil memiringkan badan, benda digerakkan terus agar anak berlatih membalikkan badannya.&lt;br /&gt;d. Melatih anak mengangkat kepala dan memperhatikan benda bergerak. Gerakkanlah benda yang menarik dihadapan anak, ketika ia telungkup angkatlah benda itu ke atas, sehingga anak dilatih mengangkat kepalanya ketika memperhatikan benda itu.&lt;br /&gt;e. Melatih anak menggenggam benda kecil&lt;br /&gt;Sentuhlah pensil atau benda yang serupa pada punggung atau ujung jari tangan anak. Anak akan berlatih menggenggam benda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramesti Widyastiningsih Amd.Keb.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-8672479425585616732?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/8672479425585616732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=8672479425585616732&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/8672479425585616732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/8672479425585616732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2008/09/asuhan-kebidanan-neonatus-umur-1-bulan.html' title='Asuhan Kebidanan Neonatus Umur 1 Bulan'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-910952474521513937</id><published>2008-09-02T14:38:00.002+07:00</published><updated>2008-09-02T14:53:51.094+07:00</updated><title type='text'>Terong bisa menyebabkan Impotensi. Mitos atau benar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;TERONG yang didesas-desuskan dapat menimbulkan impotensi ternyata berpotensi sebagai penyembuh berbagai penyakit yang saat ini hangat dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Prof. Wimpie Pangkahila, "Contoh sayuran lain yang dianggap dapat menimbulkan akibat buruk bagi fungsi seksual ialah terong, yang dianggap dapat menimbulkan impotensi. Padahal tidak ada bukti ilmiah mengenai mitos ini." (Kompas, 27 Juni 2003)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di Nigeria, buah terong mendapat tempat yang cukup baik di masyarakat. Sayuran buah terong ini digunakan sebagai alat kontrasepsi, terutama bagi kaum pria. Tidak heran jika dalam kehidupan sehari-hari, sayur yang lezat bila dimasak sambal balado ini kadang dituduh dapat menimbulkan impotensi. Khasiat lain dari sayur terong yang sering dilalap ini adalah sebagai zat anti rematik. Pengobatan tradisional di Nigeria percaya bahwa terong dapat menyembuhkan atau setidaknya mengurangi serangan rematik tertentu. Bahkan tidak hanya di Nigeria tering diyakini memiliki khasiat obat, di Korea pun terong dikenal punya keajaiban untuk mengobati beberapa gangguan kesehatan. Sayuran yang telah dikeringkan, termasuk buahnya, bisa dikonsumsi untuk mengobati sakit pinggang, encok, pinggang terasa kaku, dan nyeri lainnya. Secara empiris sayuran ini bahkan mampu mengobati campak atau cacar air, ketergantungan alkohol, gastritis, dan bekas luka bakar. Fungsi lain dari terong adalah sebagai obat anti-kejang yang relatif sulit diketahui dengan pasti kapan terjadi serangannya. Selain itu di Nigeria, terong juga dipercaya sebagai obat untuk meredam penyakit gugup. Manfaat pengusir kepanikan ini telah dibuktikan secara ilmiah terhadap marmut dengan menggunakan sari terong mentah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terong yang mengandung striknin dan skopolamin, juga skopoletin dan skoparon yang berfungsi sebagai penghambat serangan sawan dan gugup. Jadi jelaslah sudah bahwa terong dapat mengobati penyakit epilepsi. Terong sebagai anti kanker Fungsi lain dari terong adalah dapat menekan kerusakan yang timbul pada sel-sel dengan penyimpangan kromosom sebagai petunjuk adanya kanker. Pengujian terakhir yang dilakukan di Jepang menunjukkan jus terong, yang dapat menekan kerusakan pada sel-sel tersebut. Kandungan protease (tripsin) pada terong dipercaya dapat menolong melawan serangan zat penyebab kanker. Pada penelitian yang lebih spesifik, terong dikatakan bagus untuk mengurangi risiko penyakit kanker perut. Dr GHA Mitschek, seorang ilmuwan dari Universitas Graz telah melakukan pemeriksaan berseri terhadap hewan sampai beberapa kali, ternyata menemukan hasil yang sama baiknya akan manfaat terong. Peneliti ini telah memberikan diet tinggi kolesterol pada beberapa kelinci dan juga memberikan terong dalam jumlah yang bervariasi. Meskipun dosis yang diberikan tidak terlalu besar ternyata terong mampu menghambat pembentukan plak-plak lemak, mencegah dan mengobati ateroklerosis. Selain itu ditemukan juga bahwa terong dapat menghambat atau membatasi asupan kolesterol dalam saluran cerna, bahkan mampu mengangkat kolesterol yang terdapat dalam aliran darah. Sampai saat ini kami belum menemukan jurnal ilmiah yang memberikan penjelasan mengenai kaitan antara terong ungu dengan kemandulan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber :http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=int&amp;amp;tipe=consul&amp;amp;detail=16&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-910952474521513937?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/910952474521513937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=910952474521513937&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/910952474521513937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/910952474521513937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2008/09/terong-bisa-menyebabkan-impotensi-mitos.html' title='Terong bisa menyebabkan Impotensi. Mitos atau benar'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9128669701060494828.post-7348125848524886071</id><published>2008-07-04T14:41:00.002+07:00</published><updated>2008-08-07T13:45:25.277+07:00</updated><title type='text'>Long Life Education</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Long life education, this slogan explain to us that education is important for everyone, when and wherever they are. Educations have so important meaning, because without education the human being is difficult to expand. So, education must have a purpose to repair human resource qualified, for their knowledge and morality.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Our education system aims to educating life nation and developing human being of Indonesia as intact as, that is godly and religious human being to God Which is Single and kind of hearted, owning skill and knowledge, corporeal health and the spirit, settled personality, self-supporting and also feel nationality and social responsibility. Education have to able to draw up citizen in order to earn the active sharing in the entire of all life field, smart, active, creative, skillful, downright&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;have, discipline and&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;having high moral, democratic, and lenient with majored association nation rather than dissolution.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Four education pillar now and the future which cymbal by UNESCO which require to be developed by formal education institute, that is: (1) learning to Know (learn to know), (2) learning to do (learn to do/conduct something) in this case we are claimed to be skillful in doing/conducting something, (3) learning to be (learn to become somebody), and (4) learning to live together (learn to experience coexistence).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;In order to realize &lt;i style=""&gt;learning to know&lt;/i&gt;, Teacher properly functions as facilitator. Despitefully learn claimed to earn personating of collage in dialoguing with student in developing domination of and also knowledge certain science.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Learning to do&lt;/i&gt; (learn to do/conduct something) will be able to walk if school facilitated student to actualize their skill, and also their enthusiasm and talent. Although talent and enthusiasm of child, a lot of influenced by the element of clan but it can be depend on their environment. Educations applied should be according to requirement socialize or requirement of area of place. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Learning to be&lt;/i&gt; (learn to become somebody) is related with enthusiasm and talent, physical growth and psychological, personal typology of child and also their environmental condition. For aggressive child, process development will walk when given him a break wide enough for creation. On the contrary for passive child, roles learn and learn as director at one blow facilitator very required for the student to develop their self maximally.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Habit coexist, each other esteem, opened, giving and take (take and give), need to grow and develop in our environment. This condition is enabling happening process "learning to live together" (learn to experience coexistence). Applying of this fourth Pillar felt more and more important in globalism era of global emulation. Need to learn of attitude mutually understanding usher race, tribe, and the religion in order to waste various opposition which coming from the things.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Thereby, demand of education now and the future have aimed to improve quality of professional and intellectual ability and also the attitude, personality and moral of human being in &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; generally. Ably and the attitude human being of expected such &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; can seat our self prestigiously in society of the world in era of this globalization.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9128669701060494828-7348125848524886071?l=javaneseyouth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/feeds/7348125848524886071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9128669701060494828&amp;postID=7348125848524886071&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/7348125848524886071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9128669701060494828/posts/default/7348125848524886071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javaneseyouth.blogspot.com/2008/07/long-live-education.html' title='Long Life Education'/><author><name>javaneseyouth</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15796877594773993287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_2SfjBM05Ayw/SHFu42bg8BI/AAAAAAAAAA4/ZD29rAvIR5E/S220/DSC01430cutc.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
